RadarBuleleng.id - Tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali memicu kekhawatiran dan spekulasi publik. Banyak pihak mulai mempertanyakan aspek keselamatan dan kelayakan operasional kapal tersebut.
Beberapa dugaan muncul, mulai dari kemungkinan kelalaian operator kapal hingga jumlah penumpang yang diduga tidak sesuai manifes.
“Bisa saja kendaraan tidak diikat dengan seling. Bahkan ada yang menduga jumlah penumpang sebenarnya lebih dari yang tercantum di manifest,” ujar salah satu warga yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Dalam manifes resmi, tercatat kapal mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan berbagai jenis. Namun, jumlah penumpang diduga bisa lebih dari angka tersebut.
Ketua Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK), Hakim Said, menilai tragedi tersebut menambah daftar panjang insiden laut di Selat Bali.
Ia mengingatkan bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada tenggelamnya KMP Yunicee pada 2021 silam.
“Musibah seperti ini memunculkan banyak dugaan. Bisa karena kelalaian, kelayakan kapal, atau sebab lainnya. Meskipun faktor alam juga tak bisa dikesampingkan,” ucap Hakim.
Ia mendesak adanya investigasi mendalam terhadap penyebab kejadian, termasuk soal kelayakan KMP Tunu Pratama Jaya dan dokumen Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang semestinya menjadi acuan sebelum kapal berangkat.
“Kalau memang kapal sudah tidak layak, kenapa masih diberi izin berlayar? Ini harus diselidiki. Nyawa manusia tidak boleh dikompromikan,” tegasnya. Ia juga mendorong aparat menegakkan hukum secara tegas. “Usut tuntas, jangan ada yang ditutupi,” imbuhnya
Sementara itu, polisi resmi memulai penyelidikan. Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Timur, sejak Jumat (4/7/2025) telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab kecelakaan laut yang menewaskan puluhan penumpang itu.
Direktur Polairud Polda Jatim, Kombes Arman Asmar Syarifudin mengatakan, kini tim masih fokus pada pencarian korban yang belum ditemukan. Pencarian intensif akan dilakukan selama beberapa hari mendatang.
Di sisi lain, proses penyelidikan tetap berjalan. Tiga penumpang selamat telah diperiksa sebagai saksi. Namun, nahkoda dan mualim kapal belum ditemukan.
“Kami masih mengumpulkan informasi dari tiga saksi. Untuk kru utama, seperti nakhoda, masih dalam pencarian,” ujar Arman.
Dalam penyelidikan ini, polisi akan mencocokkan data manifes dengan kondisi di lapangan, termasuk mengecek rekaman CCTV dan video yang beredar.
“Soal manifes, nanti akan dikaji apakah sesuai atau tidak. Termasuk akan dilihat keterlibatan operator kapal dan ASDP. Namun kami belum bisa menyampaikan detail, karena proses masih berjalan,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya