RadarBuleleng.id - Untuk mencegah banjir besar terulang, enam sungai di Bali diusulkan masuk program normalisasi.
Gubernur Bali, Wayan Koster, bahkan sudah membahas hal ini dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, pada Senin (15/9/2025).
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali–Nusa Penida, Gunawan Sunantoro mengungkapkan, usulan tersebut telah diteruskan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Hanya saja, pengerjaan belum bisa dilakukan tahun ini karena masih dalam tahap kajian dan identifikasi.
“Usulan sudah masuk ke Kementerian PU, tapi masih dalam tahap kajian,” ujarnya.
Enam titik yang diusulkan meliputi Tukad Unda, Tukad Badung, Tukad Mati, Tukad Ayung, serta Waduk Muara Badung.
Dari semuanya, Waduk Muara menjadi prioritas utama karena kondisi sedimentasi yang sangat parah.
“Di Waduk Muara sedimentasinya sudah sangat tebal. Terakhir kali normalisasi dilakukan 10 tahun lalu,” jelasnya.
Baca Juga: Duka Keluarga Komang Sasa, Pekerja Migran Asal Buleleng yang Meninggal Dunia di Turki
Gunawan memperkirakan sedimentasi di waduk tersebut mencapai 270 ribu meter kubik. Biaya normalisasi diperkirakan mencapai Rp 30 miliar.
Sementara untuk sungai lainnya, pihaknya masih melakukan pengukuran ketebalan endapan dan titik-titik kritis.
Selain normalisasi, Tukad Unda juga akan dibangun infrastruktur pengendali banjir seperti dam dan tanggul.
“Embung di sana mulai tergerus, jadi perlu perbaikan tanggul,” kata Gunawan.
Menurutnya, Waduk Muara menjadi prioritas utama, disusul Tukad Mati dan Tukad Ayung.
Sedangkan Tukad Badung relatif tidak terlalu signifikan. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi curah hujan tinggi yang kerap memicu banjir.
“Kalau curah hujan normal sebenarnya tidak diperlukan. Tapi dengan kondisi saat ini, upaya khusus memang wajib dilakukan,” tegasnya.
Gunawan menambahkan, tahun ini BWS Bali–Nusa Penida masih fokus pada perbaikan tanggul-tanggul jebol.
Sementara rencana normalisasi baru bisa dimulai tahun depan secara bertahap.
“Normalisasi tidak bisa sekaligus, perlu jangka menengah. Mungkin bisa start tahun depan,” katanya.
Terkait faktor penyebab banjir, ia mengungkapkan banyak sampah yang ditemukan di daerah aliran sungai (DAS), mulai dari kayu, plastik, hingga sofa dan kasur.
Selain itu, ada isu soal keterlambatan membuka pintu dam. Namun Gunawan menegaskan pihaknya sudah bekerja sesuai prosedur.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Pemprov dan kabupaten/kota. SOP sudah ada dan disepakati bersama,” pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya