RadarBuleleng.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi suhu panas ekstrem harian yang mencapai puncaknya di kisaran 35 derajat Celcius (35°C).
Kondisi ini diprediksi terjadi seiring dengan fenomena pergerakan semu Matahari dan masa transisi musim.
Berdasarkan data prakiraan BMKG terbaru, sejumlah kota besar di Indonesia berpotensi mengalami suhu maksimum harian yang tinggi, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Suhu maksimum harian diprediksi berkisar antara 27°C hingga 35°C.
Beberapa kota dan wilayah yang diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap suhu tinggi antara 32°C hingga 35°C antara lain Serang, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta di Pulau Jawa.
Di Pulau Sumatera, Kota Banda Aceh sempat terjadi panas tinggi. Bahkan tercatat sempat mencapai 35,6°C.
Beberapa wilayah di Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) secara historis sering mencatat suhu maksimum tinggi.
BMKG meminta warga di kota-kota tersebut, serta wilayah sekitarnya, untuk mengambil langkah pencegahan guna menghindari dampak negatif paparan panas.
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini bukan merupakan gelombang panas (heatwave) seperti yang terjadi di negara subtropis, melainkan fenomena normal tahunan.
Adapun faktor yang mempengaruhi yakni gerak semu matahari.
Pada periode September hingga Oktober, posisi Matahari berada relatif tegak lurus di atas wilayah Indonesia bagian selatan Khatulistiwa.
Hal ini menyebabkan intensitas penyinaran Matahari di permukaan Bumi menjadi sangat kuat atau maksimal.
Musim pancaroba juga ikut berpengaruh. Indonesia sedang berada dalam masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Pada masa ini, cuaca terik dan hangat di pagi hingga siang hari kerap terjadi sebelum diikuti potensi hujan ringan hingga lebat di sore atau malam hari.
Di beberapa wilayah, kurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari menyebabkan energi Matahari langsung memanaskan permukaan bumi tanpa terhalang.
Meskipun demikian, BMKG juga mengingatkan bahwa masa transisi ini berpotensi memicu cuaca ekstrem lain, yaitu hujan lebat disertai petir dan angin kencang akibat pemanasan kuat yang mendorong pembentukan awan Cumulonimbus (Cb).
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga diri dan kesehatan selama periode suhu panas ekstrem ini.
Caranya, perbanyak minum air putih secara teratur. Jangan menunggu haus, untuk mencegah dehidrasi.
Warga juga dihimbau batasi aktivitas di luar ruangan, terutama antara pukul 10.00 hingga 15.00 WIB saat Matahari berada di titik terkuat.
Ada baiknya mengenakan pakaian yang longgar, topi, payung, dan tabir surya (sunscreen) saat harus beraktivitas di luar. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya