RadarBuleleng.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menuai sorotan publik setelah mengumumkan rencana pengembalian dana sebesar Rp 71 triliun dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun anggaran 2025 yang belum terserap.
Anggaran besar yang mengendap tersebut memunculkan kritik terkait efektivitas dan kesiapan pelaksanaan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah di seluruh Indonesia.
Pemerintah melalui BGN telah menyiapkan Rp 71 triliun dana utama serta Rp 100 triliun dana cadangan sebagai langkah percepatan implementasi program tersebut.
Namun hingga Oktober 2025, realisasi penyerapan anggaran baru mencapai sekitar Rp 20,6 triliun atau sekitar 29 persen dari pagu.
Kepala BGN, Dadan Hindayana menjelaskan, dana yang dikembalikan merupakan bagian dari anggaran yang dipastikan tidak akan terserap hingga akhir tahun.
“Kami kembalikan dana yang belum bisa digunakan sebagai bentuk transparansi dan efisiensi penggunaan anggaran negara,” ujar Dadan.
Meski demikian, langkah BGN tersebut memunculkan tanda tanya mengenai kesiapan dan kemampuan lembaga dalam menjalankan program strategis nasional itu.
Beberapa pihak menilai bahwa pengembalian dana sebesar itu menunjukkan lemahnya perencanaan dan realisasi di lapangan, terutama dalam hal distribusi dan koordinasi dengan pemerintah daerah.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dana cadangan Rp 100 triliun yang disebut belum terserap sebenarnya belum dicairkan sama sekali.
“Yang dikembalikan bukan dana yang sudah digunakan, melainkan anggaran yang belum dialokasikan secara resmi,” ujarnya.
Program MBG sendiri telah menjangkau lebih dari 31 juta penerima manfaat, namun capaian tersebut dinilai belum sebanding dengan besarnya anggaran yang disiapkan.
Banyak kalangan menilai, dengan dana mencapai ratusan triliun, penyerapan seharusnya bisa lebih optimal untuk mendukung peningkatan kualitas gizi anak di berbagai wilayah.
BGN sendiri menargetkan peningkatan anggaran signifikan pada tahun 2026, yakni mencapai Rp 268 triliun dengan tambahan dana cadangan sebesar Rp 67 triliun, untuk menjangkau hingga 82,9 juta penerima manfaat. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya