RadarBuleleng.id – Salah satu ajaran luhur dalam Islam adalah menjadi pribadi yang pemaaf.
Rasulullah SAW sepanjang hidupnya menjadi teladan agung tentang bagaimana memaafkan, bahkan terhadap mereka yang pernah menyakitinya.
Sikap mulia itu tidak hanya beliau amalkan, tetapi juga diwariskan kepada para sahabat.
Dalam Islam, derajat seorang mukmin yang mampu memaafkan disebut sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Hal itu disampaikan Ustadz Saifuddin Abbas, Pimpinan Dayah Modern Ihyaaussunnah Kota Lhokseumawe, dalam tausiahnya bertema “Belajar Memaafkan Orang Lain.”
Menurutnya, memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan hati dan kedewasaan iman.
“Memaafkan bukan berarti kita kalah,” ujar Ustadz Saifuddin. “Justru itu bukti bahwa hati kita mampu berdamai dengan luka,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, orang yang pemaaf adalah mereka yang berani melepaskan dendam dan menata hati agar tetap bersih.
Langkah pertama menjadi pribadi pemaaf, kata dia, adalah mengikhlaskan dan melupakan masa lalu.
“Seseorang tidak akan pernah menemukan ketenangan bila terus membawa luka lama dalam hatinya,” ungkapnya.
“Mengikhlaskan bukan berarti melupakan sepenuhnya, tapi memilih untuk tidak terus terluka oleh masa lalu,” katanya lagi.
Langkah kedua, lanjutnya, adalah mengubah cara pandang terhadap orang lain.
Tidak semua kesalahan dilakukan karena niat menyakiti, melainkan bisa karena keterbatasan atau kondisi sulit.
“Cobalah pahami sebelum menghakimi,” tuturnya.
“Ketika kita berusaha melihat dari sisi orang lain, hati akan lebih lembut dan tidak mudah membenci,” ucapnya.
Ustadz Saifuddin menambahkan, langkah ketiga adalah berkaca pada diri sendiri, sebab setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan membutuhkan maaf dari orang lain.
Sementara langkah keempat dan kelima adalah menumbuhkan empati dan mengelola amarah.
“Empati menumbuhkan kasih, sedangkan kemampuan mengendalikan emosi menjaga hati tetap bersih,” ungkapnya.
“Amarah itu seperti api. Kalau dibiarkan, ia membakar dan menghanguskan kebaikan dalam diri. Tapi kalau dikendalikan, api itu justru menjadi cahaya yang menuntun kita menuju kedamaian,” tegasnya.
Dengan mengelola emosi, seseorang akan lebih mudah memberi maaf dan menemukan ketenangan dalam dirinya.
Sebagai penutup, Ustadz Saifuddin berpesan agar umat Islam membiasakan diri memberi maaf sekecil apapun kesalahan orang lain.
“Saat kita memaafkan, sebenarnya kita sedang membebaskan diri dari penjara kebencian,” tegasnya.
Menurutnya, hati yang mampu memaafkan adalah hati yang dekat dengan kedamaian.
Dalam setiap maaf yang tulus, tersimpan ketenangan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang ikhlas. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya