Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Unik Roberto Lopes: Direkrut Timnas Cape Verde via LinkedIn, Kini Berhasil Lolos Piala Dunia 2026

Acep Tomi Rianto • Minggu, 19 Oktober 2025 | 20:29 WIB
Roberto Lopes menjadi salah satu pilar kunci lolosnya Cape Verde Menuju Piala Dunia 2026.
Roberto Lopes menjadi salah satu pilar kunci lolosnya Cape Verde Menuju Piala Dunia 2026.

RadarBuleleng.id – Lolosnya tim nasional Cape Verde ke Piala Dunia FIFA 2026 telah menciptakan euforia bersejarah bagi negara kepulauan di Samudra Atlantik tersebut.

Namun, di balik keberhasilan fenomenal tersebut , tersembunyi sebuah kisah rekrutmen yang sangat anti-mainstream di dunia olahraga.

Alih-alih melakukan rekrutmen melalui bursa transfer atau manajer pemain, Cape Verde justru melakukan rekrutmen melalui platform jejaring profesional, LinkedIn.

Pahlawan tak terduga dalam lolosnya Tanjung Verde ke Piala Dunia 2026 adalah Roberto 'Pico' Lopes, bek tengah kelahiran Dublin, Irlandia.

Selama ini, Lopes menghabiskan seluruh karier klubnya di League of Ireland bersama Shamrock Rovers dan hanya pernah bermain untuk Republik Irlandia di level U-19.

Lopes tidak pernah menyangka akan bermain di panggung internasional tertinggi, apalagi untuk negara asal ayahnya, Cape Verde.

Titik balik dalam hidup Lopes terjadi pada tahun 2018. Saat itu, Lopes yang memiliki profil di LinkedIn untuk tujuan akademis ketika kuliah, menerima sebuah pesan.

Pengirimnya adalah Rui Aguas, pelatih kepala Cape Verde saat itu, yang tengah aktif mencari pemain diaspora (keturunan) Cape Verde di seluruh dunia untuk memperkuat tim nasional.

Namun, pesan pertama dari Aguas itu tertulis dalam bahasa Portugis, bahasa yang tidak Lopes pahami.

“Saat tumbuh dewasa, Anda selalu waspada terhadap pesan atau panggilan yang mencurigakan, dan saya pikir itu adalah spam,” jelas Lopes dalam beberapa wawancara.

Karena paranoid dan tidak mengerti bahasanya, Lopes mengabaikan pesan tersebut.

Pesan yang berisi undangan untuk mewakili negara sang ayah itu pun terabaikan di kotak masuknya selama sembilan bulan.

Beruntung, satu tahun kemudian, pada 2019, Aguas kembali menghubungi Lopes. Kali ini, ia menyertakan pesan tindak lanjut dalam bahasa Inggris.

Lopes yang merasa tidak enak karena mengabaikan pesan pertama, segera menggunakan alat penerjemah untuk membaca pesan awal yang berbahasa Portugis.

Ia pun menyadari bahwa itu adalah tawaran resmi dari Federasi Sepak Bola Cape Verde (FCF).

"Saya meminta maaf sebesar-besarnya Syukurlah mereka memaafkan dan menunggu saya, dan sekarang saya adalah bagian dari sejarah," ujar Lopes.

Lopes lahir dari ibu Irlandia dan ayah Cape Verde. Dia segera berkomitmen untuk membela negara leluhurnya.

Keputusan tersebut membawanya ke dalam tim yang didominasi oleh pemain-pemain diaspora yang lahir di Portugal, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya.

Debut Lopes bersama Blue Sharks (julukan Cape Verde) terjadi pada tahun 2019 dalam pertandingan persahabatan melawan Togo.

Sejak saat itu, Lopes, yang dikenal dengan julukan "Pico" (yang berarti 'pria kuat'), berkembang menjadi salah satu bek tengah yang paling diandalkan oleh timnas.

Ia berpartisipasi dalam dua edisi Piala Afrika (AFCON) dan berperan penting dalam filosofi tim yang memanfaatkan diaspora mereka di Eropa.

Pencapaian puncak datang pada Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 Zona Afrika, di mana Cape Verde berhasil memuncaki Grup D, mengungguli tim-tim raksasa Afrika seperti Kamerun.

Kemenangan 3-0 atas Eswatini pada Oktober 2025 memastikan tempat bersejarah mereka di Piala Dunia.

Lolosnya Cape Verde sebagai negara terkecil kedua (berdasarkan populasi) yang pernah mencapai Piala Dunia, tidak hanya menjadi cerita Cinderella sepakbola, tetapi juga menjadi bukti bagaimana sarana modern seperti LinkedIn dapat berperan dalam dunia pencarian bakat olahraga.

Bagi Lopes, yang kini berusia 33 tahun, momen tersebut sangat emosional.

Ia mengakui bahwa kesempatan ini tidak hanya mengangkat karier sepak bolanya tetapi juga memperkuat hubungannya dengan akar budaya Cape Verde.

“Ini adalah mimpi masa kecil. Saya tahu beberapa orang akan mengatakan seorang anak dari Crumlin (Dublin) yang bermain di League of Ireland sepanjang kariernya, bermain sepak bola internasional pada usia 28, dan bermain di Piala Dunia. Ini sungguh luar biasa,” kata Lopes.

Lopes pun tak lupa menyampaikan terima kasih kepada LinkedIn, platform yang menjadi jembatan tak terduga bagi perjalanan internasionalnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#olahraga #diaspora #sepak bola #Tim Nasional #platform #Euforia #negara kepulauan #Cape Verde #piala dunia #linkedin #pelatih #pico #Tanjung Verde #portugis #spam