Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bali Low Season Wisatawan, Atraksi Dolphin di Lovina Terancam Perang Berharga. Ini Sikap Dinas Pariwisata Buleleng

Eka Prasetya • Minggu, 17 Maret 2024 | 22:39 WIB
WISATA UNGGULAN: Wisatawan menyaksikan atraksi dolphin di Lovina.
WISATA UNGGULAN: Wisatawan menyaksikan atraksi dolphin di Lovina.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Provinsi Bali kini sedang masuk dalam fase low season pariwisata, alias sepi kunjungan wisatawan.

Hal itu juga berdampak bagi Kabupaten Buleleng. Kunjungan wisatawan sejak bulan Februari merosot. Fase low season itu diprediksi berlangsung hingga Mei nanti.

Merosotnya jumlah kunjungan wisatawan juga berdampak pada wisata atraksi melihat dolphin di alam bebas.

Pada musim sepi wisatawan, dikhawatirkan akan terjadi perang harga paket wisata dolphin di kawasan wisata Lovina.

Indikasi itu diungkap Dinas Pariwisata Buleleng. Perang harga dikhawatirkan berdampak pada kualitas atraksi wisata di Bali Utara.

Saat ini rata-rata harga paket atraksi wisata dolphin di Lovina berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per orang.

Namun pada fase low season, harganya bisa turun drastis menjadi Rp 75 ribu per wisatawan. Bahkan ada yang berani mengutip hingga Rp 50 ribu per wisatawan.

Harga itu dianggap terlalu murah. Karena nahkoda perahu juga memberikan fee kepada pemandu wisata sebanyak Rp 25 ribu per kepala.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, perang harga itu berdampak serius.

Boat yang biasanya mengangkut 5-6 orang wisatawan, dipaksakan mengangkut 10 orang hingga 12 orang wisatawan.

“Nahkoda itu akhirnya mengangkut wisatawan melebihi kapasitas normal. Ini dampaknya serius. Kalau sampai terjadi kecelakaan di laut, itu yang terdampak citra pariwisata di Buleleng, khususnya Lovina,” kata Dody.

Menurutnya perang harga atraksi dolphin itu bukan hanya sekedar indikasi atau isapan jempol belaka.

“Itu pengakuan mereka. Itu saya dengar langsung waktu mengumpulkan nahkoda boat dolphin,” ujarnya.

Menurut Dody, tarif atraksi dolphin idealnya sebesar Rp 150 ribu per orang. Tarif itu mencakup fee, asuransi, hingga ongkos bensin.

Menurutnya sangat wajar paket atraksi dolphin dijual dengan harga mahal. Sebab komponen biaya yang harus ditanggung nahkoda cukup banyak.

Ia mencontohkan, paket wisata tracking biasanya dijual dengan harga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.

“Tracking itu kan ibaratnya tidak ada modal. Hanya jalan kaki. Kalau atraksi dolphin itu ada biaya perawatan perahu, biaya bensin, biaya perawatan mesin. Wajar sebenarnya kalau dijual lebih mahal,” ujarnya.

Dody pun meminta agar perang harga dihentikan. Nahkoda boat juga harus memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, serta keberlanjutan pariwisata.

Rencananya Dinas Pariwisata Buleleng akan menerapkan pintu masuk sentral di sejumlah pantai yang ada di kawasan wisata Lovina.

Selanjutnya pintu masuk itu juga menjadi loket penjualan paket atraksi wisata dolphin. Paket dijual pengelola wisata dengan harga standar, yakni minimal Rp 150 ribu.

Kini Dinas Pariwisata Buleleng tengah menyiapkan aplikasi pembayaran. Aplikasi itu akan terhubung dengan rekening masing-masing pihak.

“Jadi ketika bayar, itu sudah jelas hitungannya. Berapa masuk ke nahkoda, berapa fee untuk pemandu, berapa tiket yang masuk ke pengelola, desa dinas, desa adat, dan seterusnya. Kami sedang siapkan aplikasinya,” demikian Dody. (*)

Editor : Eka Prasetya
#bali #dolphin #pariwisata #lovina #wisatawan #buleleng #dinas pariwisata buleleng