RadarBuleleng.id - Akademisi di Universitas Udayana mendesak pemerintah berhenti mengobral izin hotel. Sebab akomodasi pariwisata di Bali sudah terlalu banyak.
Saat ini fasilitas pariwisata berupa hotel di Bali semakin banyak. Terutama di kawasan Bali selatan.
Bahkan investor nekat mencaplok sempadan pantai maupun sungai. Praktis hal itu berdampak buruk bagi pariwisata dan alam Bali.
Guru Besar Universitas Udayana, Prof. I Putu Anom mengungkapkan, izin dan pembangunan yang terjadi di Bali sangat masif.
Masifnya pembangunan hotel di Bali, terutama di Bali Selatan, telah menciptakan perang tarif terkait harga kamar hotel.
Praktis hal tersebut membuat persaingan menjadi tak sehat. Sebab hotel-hotel kelas menengah ke bawah akan kalah bersaing dengan hotel-hotel mewah.
"Kalau yang di atas menurunkan harga, yang di bawah jadi merana. Seperti hotel bintang tiga ke bawah karena kalah bersaing," ujarnya.
Baca Juga: Sing Ngelah Gae! Turis Inggris Ngutil Pakaian Dalam Wanita di Bali
Selain itu pembangunan hotel yang masif menyebabkan alam Bali menjadi rusak. Hal itu diperparah dengan banyaknya pemanfaatan dan alih fungsi lahan.
Menurutnya harus ada aturan yang tegas dari pemerintah terkait tata ruang dan peruntukan lahan. Sehingga para investor tak semena-mena membangun.
"Harus ada aturan tata ruang yang tegas, peruntukan lahan. Misalnya ada sempadan pantai, jurang, sungai, dan lain-lain harus diikuti. Terutama di Kuta Selatan tebing-tebing itu banyak sekali dikeluarkan izin," ujarnya.
Masalah pencaplokan lahan juga terjadi di wilayah Ubud, Gianyar. Hotel dan villa mencaplok sempadan sungai dan jurang.
Bagaimana pun ada aturan tata ruang, tapi dilanggar. Saya kurang sepakat soal itu," tegasnya.
Lebih lanjut Anom mengatakan, pada tahun 2015 ada 135 ribu kamar hotel di Bali. Sebanyak 95 ribu diantaranya ada di Kabupaten Badung.
Data itu baru mencakup data hotel berizin saja. Ditengarai masih ada ribuan kamar yang belum terdata, karena tidak berizin.
"Pemda jangan juga mengobral izin tanpa memperhatikan lingkungan kita. Terlalu padat di Bali Selatan, terjadi kemacetan yang paling krusial untuk wisatawan. Wisatawan rugi kalau di Bali malah banyak habis waktunya di jalan karena macet," tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya