TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Para praktisi pariwisata di Desa Les, Kecamatan Tejakula optimistis akan merebut predikat juara pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Apalagi Desa Les menjadi satu-satunya wakil Buleleng dan Provinsi Bali pada ajang yang digelar Kementerian Pariwisata itu.
Perbekel Les, Gede Adi Wistara mengatakan, kesiapan Desa Les menghadapi ajang ADWI bisa dibilang sudah 90 persen.
Apalagi pihaknya sudah mendapat pendampingan dari Dinas Pariwisata Buleleng, para akademisi, dan penggiat pariwisata.
Baca Juga: Wujudkan Destinasi Unggul, Dispar Siapkan 12 Desa Wisata Jadi Magnet Pariwisata Baru di Buleleng
Menurut Adi, pihaknya hanya perlu melakukan finalisasi kesiapan. Mengingat tim juri bisa datang sewaktu-waktu pada bulan Juni hingga Oktober tahun ini.
Adi mengungkapkan, pariwisata di Desa Les sebenarnya sudah berkembang sejak tahun 1990 silam. Air Terjun Yeh Mampeh menjadi primadona pariwisata di desa tersebut.
Sejak 2019, pihaknya kemudian mengembangkan potensi wisata di Desa Les melalui Jaringan Desa Wisata (Jadesta) yang dibuat Kementerian Pariwisata.
“Saat pandemi covid-19 itu kami mulai memetakan dan menata potensi desa. Kemudian tahun 2021 kami ikut ADWI masuk 1.000 besar, tahun 2022 masuk 500 besar, 2023 kami tidak berhasil, dan tahun ini kami tata lagi sehingga masuk 50 besar,” ujarnya.
Adi mengungkapkan, Desa Les tidak memiliki potensi wisata yang bersifat massal. Sebaliknya potensi wisata di desa tersebut merupakan potensi desa yang dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Dari sisi alam misalnya, Desa Les mengandalkan Air Terjun Yeh Mampeh. Selain itu ada potensi snorkeling dan diving di pesisir pantai.
Selanjutnya wisatawan diajak menyaksikan pengolahan garam tradisional dengan metode palungan yang jadi daya tarik sendiri.
Kemudian wisatawan diajak melihat proses pembuatan arak Bali dari dekat, pembuatan gula juruh, dan minyak tandusan. Selain itu Desa Les juga punya paket aktivitas tracking.
Ditambah lagi ada potensi Dapur Bali Mula, yang menghidangkan menu kuliner yang unik. Dapur ini menyajikan makanan sesuai dengan bahan yang tersedia. Sehingga tidak ada menu pasti setiap harinya.
Kejutan-kejutan dari olahan masakan yang ditawarkan chef, juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Kalau ditanya pariwisata yang bisa mendatangkan wisatawan secara masif, kami tidak ada. Tapi kami punya potensi pariwisata desa yang membuat wisatawan merasa dekat dan nyaman. Buktinya wisatawan itu bisa tinggal 2-3 hari,” ujar Adi.
Baca Juga: Buleleng Siapkan 12 Desa Wisata Baru, Berikut Daftarnya
Dengan paket pariwisata jalan-jalan desa itu, wisatawan mancanegara berdatangan. Mulai dari kawasan Eropa, Australia, Amerika, hingga Rusia.
Terkini pihaknya berencana mengembangkan potensi lain. Seperti pengolahan sampah organik dan anorganik, serta budidaya ganggang spirulina.
Adi bercerita, pemilahan sampah dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk menjadi daya tarik bagi wisatawan. Apalagi saat mereka diberi kesempatan mencoba langsung.
“Respon mereka sangat antusias dan sangat positif. Mungkin terlihat biasa-biasa saja, tapi hal itu memberikan pengalaman yang personal bagi wisatawan,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, pihaknya sudah melakukan visitasi dan pendampingan kepada Desa Les.
Pihaknya juga telah bertemu dengan para pemangku kebijakan di desa untuk menyiapkan dan merancang penerimaan tim juri dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Dalam minggu ini tim kami mengumpulkan data-data eksisting potensi desa untuk kemudian kami optimalkan pengelolaan dan promosinya,” kata Dody.
Terkait target pada ajang ADWI, Dody dengan tegas memasang target Desa Les bisa meraih gelar juara pada ajang tersebut. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya