Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dinas Pariwisata Evaluasi Desa Wisata di Buleleng. Diduga Ada yang Tidak Aktif

Francelino Junior • Selasa, 3 September 2024 | 20:47 WIB

 

DESA WISATA: Atraksi jumping yang dilakukan wisatawan domestik di Air Terjun Aling-Aling, Desa Sambangan.  Desa Sambangan merupakan salah satu desa wisata di Buleleng.
DESA WISATA: Atraksi jumping yang dilakukan wisatawan domestik di Air Terjun Aling-Aling, Desa Sambangan. Desa Sambangan merupakan salah satu desa wisata di Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dinas Pariwisata Buleleng akan mengevaluasi status desa wisata yang telah disandang oleh sejumlah desa di Buleleng.

Evaluasi itu dilakukan, karena ditengarai ada beberapa desa yang tidak aktif lagi melakukan pengembangan aktivitas pariwisata.

Padahal dengan penetapan desa wisata, pemerintah desa bisa lebih leluasa mengalokasikan dana untuk peningkatan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, hingga pengelolaan desa wisata.

Mengacu data Dinas Pariwisata Buleleng, jumlah desa wisata di Bali Utara mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Pada tahun 2017 lalu, hanya ada 31 desa wisata di Buleleng. Selanjutnya pada 2022, meningkat menjadi 75 desa wisata.

Hanya saja dari pemantauan Dinas Pariwisata Buleleng, ada desa wisata yang sudah tidak aktif lagi melakukan aktivitas pariwisata.

Pemerintah akhirnya memutuskan melakukan evaluasi terhadap desa-desa wisata di Buleleng itu. 

Evaluasi tersebut juga dilakukan untuk memastikan desa-desa tersebut masih layak menyandang status desa wisata atau malah harus dicabut.

”Dari jumlah itu tentunya ada yang tidak aktif. Tapi jumlah pastinya dan desa mana saja belum bisa kami sebutkan,” ujar Dody saat ditemui pada Senin (2/9/2024) siang.

Menurut Dody pihaknya memiliki petunjuk teknis (juknis) untuk evaluasi. Dalam juknis tersebut, ada form isian untuk verifikasi dan validasi oleh Dispar Buleleng.

Penilaian juga tidak hanya menyasar 75 desa wisata eksisting, namun juga menyasar 11 desa binaan lainnya, sebelum masuk dalam SK menjadi desa wisata. 

Tercatat ada lima indikator yang jadi penilaian. Yakni Atraksi/Daya Tarik Wisata, Amenitas, Kelembagaan dan SDM, Digital Kreatif, dan Resiliensi atau keberlanjutan.

Dari hasil penilaian berdasarkan indikator itu, Dinas Pariwisata Buleleng akan mengklasifikasikan desa wisata berdasarkan kategori rintisan, berkembang, maju, maupun mandiri.

”Dengan penilaian itu, pengelola desa wisata jadi tahu ada di posisi mana mereka. Sehingga berdampak pada mereka agar mampu mengembangkan desa wisatanya,” lanjut Dody.

Dody menyebut tidak menutup kemungkinan ada desa wisata yang dicabut statusnya, karena sudah tidak aktif lagi melakukan aktivitas pariwisata.

“Kalau skornya sudah tidak masuk, ya tidak kami pertahankan. Nanti kami evaluasi berdasarkan indikator yang ada,” demikian Dody. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #pariwisata #desa wisata #buleleng