Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Perluas Akses Pasar, Bank Indonesia Dorong Desa Wisata Lakukan Digitalisasi

Marsellus Pampur • Selasa, 7 Oktober 2025 | 20:49 WIB

 

Pementasan Ngelawang di hutan bambu Desa Wisata Wisata Penglipuran.
Pementasan Ngelawang di hutan bambu Desa Wisata Wisata Penglipuran.

RadarBuleleng.id – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali terus mendorong penguatan dan pengembangan akses pasar sektor pariwisata, terutama bagi desa wisata dan daya tarik wisata (DTW) di Pulau Dewata. 

Dukungan ini diberikan kepada enam desa wisata dan tiga DTW yang dinilai memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi pariwisata Bali.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja mengatakan, sektor pariwisata di Bali menunjukkan tren pertumbuhan positif. 

Dalam periode Januari hingga Juni 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara secara nasional mencapai 7,05 juta orang atau naik 9,44 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Sebagai lokomotif pariwisata nasional, Bali berhasil menunjukkan diversifikasi pasar yang kuat. Hingga triwulan II 2025, total kunjungan wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—mencapai 3,11 juta orang,” jelas Erwin saat kegiatan Capacity Building Desa Wisata dan Daya Tarik Wisata (DTW) di Denpasar.

Erwin menegaskan, untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, desa wisata serta DTW perlu memperhatikan tiga hal utama. 

“Pertama, dukungan infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Kedua, penerapan digitalisasi dalam promosi dan pengelolaan destinasi. Ketiga, edukasi dan konservasi berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal,” ujarnya.

Apabila langkah-langkah tersebut dilakukan secara terintegrasi, terukur, dan berorientasi pada hasil, transformasi pariwisata Bali akan berjalan inklusif dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, menambahkan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan prinsip panduan (guiding principle) yang berbasis ekonomi, sosial, dan budaya lokal.

“Desa wisata itu punya spirit berbeda dengan hotel. Ia berorientasi pada human spirit, di mana warga desa menjadi subjek utama dalam pengelolaan destinasi,” ujar Cok Ace.

Ia menekankan pentingnya penerapan mindset digital first dan kemauan untuk beradaptasi sebagai pondasi utama menghadapi tantangan pariwisata modern. 

“Selain digitalisasi, pengelola juga harus menemukan jati diri desa wisata dengan menggali kearifan lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah,” imbuhnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #daya tarik wisata #DTW #bank indonesia #wisatawan mancanegara #pariwisata #phri #domestik #wisatawan #desa wisata #ekonomi