Belajar Mandarin di Beijing, Saat Bahasa Inggris Tak Lagi Banyak Membantu


Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
RadarBuleleng.id - Bahasa Inggris yang selama ini terasa cukup ampuh untuk bepergian ke luar negeri, mendadak seperti kehilangan kesaktiannya saat saya tiba di Tiongkok (China).
Setidaknya itu yang saya rasakan sejak pertama kali mendarat di Shanghai hingga akhirnya menetap sementara di Beijing.
Di Bali, mencari orang yang memahami Bahasa Inggris bukan perkara sulit. Bahkan banyak warga yang mungkin tak terlalu fasih berbicara, tetapi masih cukup mengerti maksud lawan bicara.
Terlebih mereka yang bekerja di hotel, restoran, atau sektor pelayanan publik. Bahasa Inggris sudah seperti “bahasa kedua” di kawasan wisata.
Namun situasinya berbeda di Tiongkok.
Saat berada di Bandara Pudong Shanghai maupun Beijing Capital Airport, komunikasi dalam Bahasa Inggris memang masih memungkinkan.
Petugas bandara cukup komunikatif dan memahami pertanyaan dasar para pelancong asing.
Tetapi semuanya berubah ketika saya memasuki kawasan kampus Renmin University of China di Beijing.



