Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Konflik Timur Tengah Berimbas ke Pariwisata Bali, Wisman Mulai Batalkan Liburan

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 2 Maret 2026 | 06:30 WIB

 

Suasana kunjungan wisatawan ke DTW Ulun Danu Beratan, Bedugul, Baturiti, Tabanan.
Suasana kunjungan wisatawan ke DTW Ulun Danu Beratan, Bedugul, Baturiti, Tabanan.

RadarBuleleng.id - Sektor pariwisata Bali tengah menghadapi tekanan berlapis. Setelah dihantam banjir besar pada Selasa (24/2/2026), kini ancaman lain datang dari luar negeri.

Memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu lalu lintas penerbangan internasional.

Trauma banjir yang merendam sejumlah titik di Bali Selatan, khususnya Kuta dan sekitarnya, berdampak langsung pada industri perhotelan. Ribuan wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia—pasar utama Bali—dilaporkan membatalkan rencana liburan mereka.

Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengakui kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha.

“Bencana ini menjadi momok bagi kami. Padahal Bali menyandang predikat the best tourism destination island in the world. Kenyataannya, musim hujan kali ini memicu banjir luar biasa, khususnya di Badung. Di Kuta saja ada lima titik banjir, padahal di sana pusat akomodasi hotel dan vila,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan yang terdampak banjir merupakan jantung pariwisata Bali seperti Seminyak dan Kuta. 

Bahkan, sejumlah tamu hotel sempat dievakuasi saat genangan meninggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran para mitra dan agen perjalanan di luar negeri.

Baca Juga: Bupati Sutjidra Temukan Bangunan Liar di Sempadan Pantai. Janji Segera Tertibkan

Ia menilai persoalan banjir tak lepas dari masifnya alih fungsi lahan hijau yang sebelumnya menjadi daerah resapan air. Minimnya daya serap tanah ditambah curah hujan tinggi membuat air meluap.

“Air hujan meluap karena tidak ada lagi serapan, apalagi intensitas hujan sangat tinggi selama berhari-hari. Minimal, normalisasi sungai-sungai itu harus segera dilakukan,” tegasnya.

Dampaknya, potensi kerugian tak hanya dirasakan pengusaha hotel akibat pembatalan kamar, tetapi juga pemerintah daerah karena kehilangan potensi pajak. 

Meski begitu, ia menegaskan banjir tidak terjadi merata di seluruh Bali. Kawasan seperti Nusa Dua relatif aman.

Di tengah upaya pemulihan pasca banjir, pelaku pariwisata juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya menyebut penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara untuk mengantisipasi eskalasi konflik. Negara-negara tersebut antara lain Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Suriah.

“Terkait dampak ke pariwisata, saya masih berkoordinasi dengan pihak Bandara Ngurah Rai dan Otoritas Bandara untuk memantau apakah ada pembatalan penerbangan langsung,” kata Sumarajaya.

Ia mengakui pasar wisatawan asal Timur Tengah merupakan segmen potensial bagi Bali, terutama untuk wisata keluarga dan jangka tinggal lebih lama. 

Pemerintah berharap eskalasi konflik tidak meluas dan tidak berdampak signifikan terhadap konektivitas udara ke Bali. Sehingga wisatawan tetap bisa datang ke Bali. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #timur tengah #pengusaha #australia #geopolitik #pariwisata #phri #hotel #alih fungsi lahan #pajak #penerbangan #kuta #konflik #Nusa Dua #vila #banjir