Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Desa Pesisir di Buleleng, Les Menjelma Jadi Desa Wisata Terbaik Indonesia

Francelino Junior • Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:39 WIB
DESTINASI UNGGULAN: Suasana di Air Terjun Yeh Mampeh, Desa Les. Destinasi ini merupakan salah satu unggulan di Desa Les. (Pemdes Les)
DESTINASI UNGGULAN: Suasana di Air Terjun Yeh Mampeh, Desa Les. Destinasi ini merupakan salah satu unggulan di Desa Les. (Pemdes Les)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Desa Les di Kecamatan Tejakula mungkin belum sepopuler sejumlah destinasi wisata lain di Bali. 

Namun dibalik ketenangannya, desa yang berada di pesisir timur Kabupaten Buleleng ini diam-diam mencatat prestasi tingkat nasional.

Pada 2024, Desa Les resmi dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. 

Prestasi tersebut sekaligus mengukuhkan Desa Les sebagai salah satu destinasi wisata desa terbaik di Tanah Air.

Penghargaan itu bukan diraih secara instan. Desa Les harus melalui proses panjang dan berkompetisi dengan ribuan desa wisata dari berbagai daerah di Indonesia sebelum akhirnya berhasil menempati posisi tertinggi.

Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

“Desa Les adalah desa wisata yang sebenarnya sudah lama berkembang, tetapi belum banyak dipromosikan. Penghargaan ADWI 2024 ini kami raih melalui proses panjang sejak 2022,” ujarnya.

Dalam penilaian ADWI, Desa Les berhasil memperoleh nilai tertinggi pada berbagai aspek yang menjadi indikator utama penjurian. 

Mulai dari kualitas destinasi wisata, digitalisasi layanan, amenitas, kelembagaan, hingga kemampuan desa dalam menjaga keberlanjutan atau resiliensi.

Tak hanya itu, komitmen masyarakat dalam menjaga lingkungan juga menjadi salah satu faktor yang membuat Desa Les unggul di mata dewan juri.

Selama ini, Desa Les dikenal aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) dalam program pelestarian lingkungan. 

Salah satunya melalui kegiatan rehabilitasi dan pemantauan terumbu karang di kawasan pesisir. 

Desa ini juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk kelompok usaha produktif yang melibatkan perempuan.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena Desa Les menjadi satu-satunya desa wisata dari Bali yang berhasil mewakili Pulau Dewata dalam ajang ADWI 2024.

Padahal perjalanan Desa Les menuju puncak penghargaan tidak selalu mulus. Pada ADWI 2021, desa ini hanya mampu menembus 1.000 besar. 

Setahun kemudian meningkat ke posisi 300 besar. Namun pada 2023 justru turun dan hanya masuk 500 besar.

Alih-alih menyerah, pemerintah desa bersama masyarakat terus berbenah. Berbagai inovasi dilakukan untuk memperkuat identitas desa sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.

Mengandalkan konsep wisata “nyegara gunung”, Desa Les menawarkan perpaduan keindahan laut dan pegunungan dalam satu kawasan. 

Wisatawan dapat menikmati panorama bawah laut, trekking alam, hingga menjelajahi berbagai potensi budaya dan ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Untuk memberikan pengalaman yang lebih lengkap, Desa Les kini mengembangkan paket wisata desa yang melibatkan pelaku UMKM lokal dan kelompok seni tradisional.

Wisatawan diajak melihat langsung proses pembuatan garam tradisional, mengenal produksi arak Bali yang dikelola masyarakat, menyaksikan pembuatan gula juruh, hingga menikmati pertunjukan Tari Baris khas Desa Les.

Tak hanya itu, desa ini juga memperkenalkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan kebun organik sebagai bagian dari konsep pariwisata berkelanjutan yang terus dikembangkan.

Menurut Adi Wistara, salah satu keunggulan yang membuat Desa Les mendapat perhatian dewan juri adalah kemampuannya menjaga keaslian atau otentisitas desa di tengah perkembangan sektor pariwisata.

“Penilaian yang menonjol salah satunya faktor endurance, artinya desa ini mampu bertahan dengan karakter dan keasliannya,” jelasnya.

Dampak penghargaan ADWI pun langsung terasa. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat signifikan dibandingkan sebelum meraih penghargaan nasional tersebut.

“Rata-rata pengunjung sekitar 200 orang per bulan pada hari-hari biasa. Saat musim liburan atau high season, jumlahnya bisa mencapai ratusan orang setiap hari. Jauh berbeda dibandingkan sebelum mendapatkan ADWI,” ungkapnya.

Menariknya, pengunjung yang datang kini tidak hanya wisatawan. Banyak pula akademisi, peneliti, komunitas, hingga instansi pemerintah yang datang untuk belajar mengenai pengelolaan desa wisata dan program pelestarian lingkungan yang diterapkan di Desa Les.

Di antara berbagai destinasi yang tersedia, kawasan air terjun masih menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. 

Sementara melalui paket wisata yang disediakan, pengunjung juga dapat menikmati pengalaman trekking, diving, hingga snorkeling di kawasan pesisir Desa Les.

Dari sebuah desa pesisir di ujung timur Buleleng, Desa Les membuktikan bahwa menjaga alam, budaya, dan identitas lokal dapat menjadi modal besar untuk bersaing di panggung pariwisata nasional. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#les #pariwisata #desa wisata #buleleng