Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kasus Kekerasan Seksual Pada Remaja Tinggi, Mahasiswa Gencarkan Edukasi Pada Siswa

Eka Prasetya • Minggu, 19 Mei 2024 | 21:37 WIB

 

CEGAH KEKERASAN: Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak  (P2KBP3A) Buleleng, Nyoman Riang Pustaka memberikan edukasi kepada pelajar.
CEGAH KEKERASAN: Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Nyoman Riang Pustaka memberikan edukasi kepada pelajar.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kasus kekerasan seksual pada kelompok remaja di Buleleng menunjukkan tren peningkatan.

Berdasarkan data dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak (DP2KBP3A) Buleleng, sejak Januari hingga Mei 2024 tercatat ada 15 kasus kejahatan terhadap anak. 

Diantaranya 3 kasus rudapaksa, 2 kasus perbuatan cabul, 5 kasus persetubuhan anak, 1 kasus trauma psikis, 1 kasus anak berhadapan dengan hukum, 1 kasus pencemaran nama baik, dan 6 kasus perubahan perilaku.

Baca Juga: Duta Anak Buleleng Desak Program Pencegahan Kekerasan Seksual

Mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi pada Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja, menggelar seminar edukasi seksual.

Edukasi itu digelar di SMPN 5 Singaraja, kemarin (18/5/2024). Agenda tersebut diikuti ratusan siswa yang duduk di kelas 8, SMPN 5 Singaraja.

Kepala Dinas P2KBP3A Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengatakan, berdasarkan data kasus kejahatan terhadap anak yang terjadi didominasi kasus kekerasan seksual. 

Dari evaluasi yang dilakukan, kasus kekerasan seksual mencapai 44 kasus per tahunnya. Korbannya pun kebanyakan berasal dari anak berusia 6 tahun hingga remaja 15 tahun. 

Baca Juga: Cegah Kasus Kekerasan Seksual, Begini Strategi Disdikpora Buleleng

Mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan pemberian pemahaman sejak dini. Seminar yang digelar mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan itu disebut bisa menjadi solusi. 

Dengan memberikan edukasi sejak dini, siswa akan terhindar menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual.

“Ini sangat bagus, kalau bisa seminar di lakukan di setiap sekolah. Semakin banyak informasi yang diberikan semakin bagus. Kalau bisa dilanjutkan, terutama di sosialisasi di kalangan anak-anak SMP karena mereka yang paling rawan,” kata Riang.

Mantan Camat Buleleng itu menambahkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika terjadi kekerasan seksual. 

Yakni anak diminta segera lari menjauh tempat yang ada orang yang merasa mengancam.

Anak juga harus berani mengatakan tidak bila ada orang yang mengajak atau melakukan hal tidak membuat nyaman. 

“Segera laporkan yang dialami baik oleh diri sendiri atau orang lain kepada pihak berwajib,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Nanda Viriyadikha mengatakan, kasus kekerasan seksual yang terjadi sangat mengkhawatirkan. 

Dampaknya pun tak hanya terjadi pada anak itu, maupun keluarga serta orang disekitarnya. Tingginya kasus juga akan meningkatkan resiko pernikahan dini. 

“Ini terkait kekhawatiran kita tentang kekerasan seksual dan pernikahan dini semakin memprihatinkan. Oleh karena itu kami berharap melalui seminar edukasi seks ini dapat membawa perubahan dan meningkatkan kesadaran bahwa pentingnya pendidikan seksual khususnya pada remaja,” ujar Nanda. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kekerasan seksual #kekerasan #remaja #kasus #buleleng