Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cegah Ancaman Kekerasan, Guru Asal Buleleng Luncurkan Buku Cerita Anak

Eka Prasetya • Selasa, 13 Agustus 2024 | 00:24 WIB

 

PENDIDIKAN SEKSUAL: Ni Luh Wanda Putri Pradanti (menggunakan endek) saat peluncuran buku cerita anak di Denpasar.
PENDIDIKAN SEKSUAL: Ni Luh Wanda Putri Pradanti (menggunakan endek) saat peluncuran buku cerita anak di Denpasar.

RadarBuleleng.id - Seorang guru asal Buleleng, Ni Luh Wanda Putri Pradanti meluncurkan buku cerita anak sebagai salah satu upaya mencegah kekerasan pada anak.

Buku itu diluncurkan bersamaan dengan buku cerita anak lain yang dirilis oleh DIA Foundation Denpasar.

Buku yang diluncurkan oleh Wanda berjudul “Apa yang Boleh Difoto?”. Dalam penyusunan buku itu, ia berkolaborasi dengan I Wayan Suamba selaku illustrator.

Wanda mengatakan, buku karyanya merupakan salah satu karya dari total lima seri buku pendidikan seksual bagi anak-anak. 

Baca Juga: Terlantar, Dinsos Buleleng Ajak Sejumlah Anak Tinggal di Panti Asuhan

Menurut Wanda, keterlibatannya dalam program tersebut bermula saat ia mengikuti pelatihan penulisan cerita pada Februari lalu.

Setelah pelatihan itu, ia mengikuti proses seleksi ide hingga pembinaan. Lewat proses seleksi itu, DIA Foundation memfasilitasi Wanda untuk menerbitkan sebuah buku cerita anak.

Wanda menceritakan, buku itu ia tulis berangkat dari pengalaman pribadi. Ia mengaku mendengar beberapa kasus anak-anak yang menyebarkan foto dan video pribadinya lewat media sosial.

“Saya berpikir kok sampai begitu. Padahal kan mereka masih polos. Efeknya kan jejak digital itu akan tersimpan dan bisa terus tersebar,” ujar Wanda, Senin (12/8/2024).

Baca Juga: Program Puspaga Shanti Diharap Nihilkan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Buleleng

Lewat buku cerita anak itu, wanita yang juga guru di SMPN 3 Banjar itu mengedukasi agar anak-anak lebih paham cara menggunakan gadget. Terutama saat menggunakan foto dan video.

“Media itu pasti ada di HP. Tapi harus diedukasi agar mereka tidak merekam area pribadi diri sendiri. Hal itu yang saya coba tanamkan lewat buku ini,” ujarnya.

Sementara itu, Pendiri DIA Foundation, Sutaningrat Puspa Dewa mengungkapkan, pihaknya meluncurkan lima buku yang mengangkat tema “Sexuality Education for Young Learners”.

Puspa meyakini buku cerita itu akan menjadi sarana efektif dalam memberikan pendidikan seksual antara anak dengan orang tua, maupun antara guru dengan siswa di kelas.

“Kami berharap program ini bisa mencegah terjadinya peristiwa pelecehan maupun kekerasan seksual,” kata Puspa.

Asal tahu saja, DIA Foundation merilis lima buku cerita anak, sebagai sarana pendidikan seksual kepada anak-anak. Buku itu dirilis di Rumpis Kitchen, Sabtu (10/8/2024).

Buku-buku itu yakni “Ami si Pemberani” yang ditulis Desak Putu Sutariani dengan illustrator Nyoman Rupawan Artha.

Selanjutnya buku berjudul “Noda Apa Ini?” yang ditulis Putu Ayu Eka Arseni dengan illustrator Langit Wira.

Kemudian buku “Putri Malu Jangan Malu” dengan penulis I Made Adnyana dan illustrator Dwi Mahendra.

Ada pula buku berjudul “Rahasia” yang ditulis Ida Ayu Eva Putri Prabawanti dengan illustrator Adi Swardana.

Serta buku berjudul “Apa yang Boleh Difoto?” dengan penulis Ni Luh Wanda Putri Pradanti yang bekerjasama dengan illustrator I Wayan Suamba. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#guru #kekerasan #buku cerita #buleleng #edukasi #anak