SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pemkab Buleleng pasang target tidak ada lagi siswa yang tidak bisa membaca pada tahun ajaran baru 2025/2026 mendatang.
Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang kini dilaporkan tidak bisa membaca maupun tidak lancar membaca, harapannya sudah mampu membaca dalam beberapa bulan mendatang.
Selasa (29/4/2025) pagi, Pemkab Buleleng menggelar rapat lintas sektor terkait persoalan siswa di Buleleng yang tidak bisa membaca dan menulis.
Data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng menunjukkan ada 375 orang siswa SMP yang belum lancar membawa. Ratusan siswa itu tersebar di 60 sekolah yang ada di Buleleng.
Sekda Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha (FIP Undiksha).
Undiksha akan menerjunkan seorang dosen untuk memantau proses pembelajaran di sekolah. Selain itu, Undiksha juga akan menerjunkan mahasiswa untuk mendampingi proses belajar membaca, menulis, dan menghitung atau calistung.
Nantinya satu orang mahasiswa akan mendampingi seorang siswa yang belum bisa calistung.
“Nanti akan ada screening pada anak. Apakah difabel, disleksia, masalah motivasi, gaya belajar, atau variabel lain. Nanti akan ditentukan langkah pendekatan yang dilakukan Undiksha,” kata Suyasa.
Menurut Suyasa selama ini guru mengajar dengan metode pendekatan klasik. Artinya, guru mengajar seluruh siswa dengan asumsi seluruh siswa memiliki kemampuan yang sama.
“Tapi kan ada juga siswa satu atau dua orang yang memerlukan perlakuan dan perhatian khusus. Ini juga harus diperhatikan oleh guru,” ujarnya.
Selain bekerjasama dengan FIP, Pemkab Buleleng juga bekerjasama dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Buleleng. Harapannya, siswa-siswa dalam kondisi disabilitas bisa menempuh pembelajaran di SLB.
“Kalau kondisinya difabel, tentu tidak bisa diselesaikan di sekolah umum. SLB siap menerima, termasuk siap mengakomodasi di asrama,” tegasnya.
Suyasa menargetkan dalam sebulan hingga dua bulan mendatang, siswa-siswa yang belum bisa membaca, sudah semakin lancar membaca.
“Tahun ajaran baru mestinya anak-anak ini sudah bisa calistung,” kata Suyasa.
Sementara itu Dekan FIP Undiksha, Prof. I Wayan Widiana mengatakan, pihaknya telah menyiapkan tim pendamping ahli dan tim teknis. Tim itu akan bekerja selama 6 bulan mendatang.
Menurutnya tim akan turun dalam tiga bulan pertama. “Kalau memang ada kondisi berat, kami akan berikan pendampingan pada 3 bulan berikutnya,” katanya.
Widiana mengatakan, siswa dengan kemampuan membaca terbata-bata, semestinya bisa dituntaskan dalam waktu 3 bulan saja.
“Tapi kalau kondisinya berat. Misalnya masih buta huruf, tidak bisa menulis, tentu perlu waktu lebih lama. Kami akan skrining dulu untuk identifikasi masalah, sehingga bisa memberikan treatment yang tepat,” demikian Widiana. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya