SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Tak ada yang benar-benar menyangka, termasuk dirinya sendiri, bahwa latihan berbicara di depan cermin bisa menjadi awal dari langkah besar Desak Made Della Deviantari.
Mahasiswa semester enam pada Program Studi Pendidikan Agama Hindu di Institut Agama Hindu (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja itu berhasil merebut prestasi di ajang nasional. Dia meraih peringkat ketiga pada Lomba Simulasi Mengajar (LSM) tingkat nasional.
Saat banyak mahasiswa mulai merasa letih menjelang semester akhir, Della justru menemukan pijakannya. Ia serius menekuni mata kuliah Microteaching.
Mata kuliah tersebut menjadi kesempatan bagi Della untuk melatih keterampilan inti seorang pendidik. Yakni kemampuan berbicara dan mengelola suasana kelas.
“Aku sering latihan di depan cermin. karena itu modal utama mengikuti kelas Microteaching agar bisa berbicara di hadapan banyak orang, memandu suasana kelas tanpa terbata-bata lagi,” ungkap Della sambil tersenyum simpul.
Della bercerita, dirinya sama sekali tidak pernah berpikir akan terlibat dalam LSM Nasional. Dia didaftarkan oleh Eka M. Julianingsih, Kepala Program Studi Pendidikan Agama Hindu (PAH) IAHN Mpu Kuturan Singaraja.
“Yang pertama ngajak ikut itu Bu Eka, Kaprodi PAH. Tapi aku taunya dari Bagas, temanku,” kisahnya ringan.
Meski awalnya hanya "ikut-ikutan" dan belum menyadari potensi dirinya, Della tak mau setengah hati. Sebab membawa nama kampus bukan perkara main-main.
Persiapan pun dijalani dengan cermat. Mulai dari menyusun modul ajar, mempersiapkan media pembelajaran, memilih figuran siswa, hingga memikirkan alur pengajaran secara rinci.
Proses menuju lomba ternyata lebih menantang dari yang dibayangkannya. Remaja asal Desa Pelapuan, Buleleng itu, harus merekam dan mengedit video simulasi mengajarnya dalam waktu singkat.
Ia mengakui, tekanan tersebut sempat membuatnya kelelahan. Namun dari sana ia belajar mengatur waktu, mengendalikan stres, dan menyempurnakan proses kreatifnya.
“Rasanya campur aduk waktu itu. Tapi justru dari situ aku sadar pentingnya mengelola waktu. Kalau bisa lebih rapi dan terencana, hasilnya juga bisa lebih maksimal,” ungkap mahasiswi berusia 21 tahun itu.
Titik puncak perjalanan Della terjadi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tempat babak final lomba digelar. Saat namanya disebut sebagai pemenang juara tiga nasional pada 13 Desember 2024, ia mengaku sempat nyaris tak percaya.
“Awalnya berniat ikut-ikutan doang sambil nambah pengalaman, eh ternyata dikasi bonus. Pastinya senang bisa megharumkan nama kampus dan keluarga,” ungkap Della sambil menahan haru.
Bagi Della, lomba bukan semata soal podium atau medali. Lebih dari itu, ia mendapatkan pelajaran penting tentang membangun rasa percaya diri, memperluas relasi antar mahasiswa dari berbagai provinsi, dan memahami pentingnya memperjuangkan sesuatu dengan hati.
Usai meraih prestasi ini, Della ingin tetap aktif terlibat di kegiatan kampus, termasuk berkontribusi di Himpunan Mahasiswa Prodi (HMPS). Ia berharap, pengalaman dalam kontestasi nasional, akan membuka pijakan awal untuk meraih kesempatan lain.
“Semoga kalau ada next lomba yang sesuai sama minatku bisa berkontribusi lagi untuk HMPS dan kampus. Menang kalah urusan belakangan. Berani mengambil kesempatan sudah termasuk langkah awal untuk maju. Jangan pernah takut mencoba dan takut gagal,” tandasnya. (kontributor: Ketut Divinna)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya