SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pendidikan di Kabupaten Buleleng kembali menjadi sorotan. Setelah diterpa masalah ratusan siswa yang mengalami kesulitan membaca, menulis, dan berhitung, kini muncul lagi persoalan baru.
Kini terdapat 58 sekolah dasar (SD) yang minim siswa. Bahkan dua SD negeri diantaranya ada yang tidak mendapatkan siswa sama sekali.
Berdasarkan data yang diterima Radar Buleleng, 58 SD negeri itu tersebar di delapan dari sembilan kecamatan yang ada di Buleleng. Semuanya ini menerima siswa baru yang totalnya dibawah sepuluh orang.
Sebanyak 15 sekolah diantaranya Kecamatan Busungbiu, kemudian di Kecamatan Sukasada ada 11 sekolah, sebanyak 9 sekolah ada di Kecamatan Banjar, 7 sekolah di Kecamatan Seririt, 6 sekolah di Kecamatan Sawan, 4 sekolah di Kecamatan Tejakula, dan masing-masing 2 sekolah di Kecamatan Buleleng, Gerokgak, Kubutambahan.
Yang siswa barunya sembilan orang yakni SDN 1 Kampung Anyar, SDN 3 Umejero, SDN 4 Tista, SDN 1 Subuk, SDN 1 Sekumpul, SDN 8 Bungkulan, dan SDN Bestala. Yang siswa barunya delapan orang yakni SDN 4 Munduk, SDN 2 Bengkel, SDN 2 Busungbiu, SDN 3 Kedis, SDN 1 Banyupoh, SDN 2 Galungan, dan SDN 9 Sangsit.
Baca Juga: Miris! SDN 4 Sambirenteng di Kecamatan Tejakula Nol Siswa Baru
Yang siswa barunya tujuh orang yakni SDN 1 Tirtasari, SDN 2 Tirtasari, SDN 5 Temukus, SDN 6 Gobleg, SDN 1 Pucaksari, SDN 5 Patas, SDN 1 Bengkala, SDN 3 Suwug, dan SDN 7 Sangsit. Yang siswa barunya enam orang yakni SDN 2 Gesing, SDN 4 Pedawa, SDN 5 Munduk, SDN 3 Banyuasri, SDN 2 Tinggarsari, SDN 3 Kekeran, SDN 1 Kalianget, dan SDN 3 Ringdikit.
Yang siswa barunya lima orang yakni SDN 1 Bongancina, SDN 6 Sepang, SDN 1 Sulanyah, SDN 1 Gitgit, dan SDN 6 Selat. Yang siswa barunya empat orang yakni SDN 5 Ringdikit, SDN 1 Pegadungan, SDN 2 Pegadungan, dan SDN 5 Kayuputih Melaka. Yang siswa barunya tiga orang yakni SDN 2 Bongancina, SDN 8 Busungbiu, SDN 5 Pakisan, dan SDN 3 Patemon.
Sedangkan sisanya seperti SDN 2 Gesing, SDN 1 Tista, dan SDN 4 Pucaksari masing-masing siswa barunya hanya dua orang.
SDN 1 Pengastulan semula mendapatkan satu orang siswa. Namun orang tua siswa memilih memindahkan anak mereka ke SDN 3 Pengastulan. Sehingga sekolah itu tidak mendapatkan siswa.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN 4 Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, yang tidak mendapatkan siswa baru.
”Beberapa case seperti itu, karena memang jumlah anak yang bersekolah di jenjang itu yang kurang, dibandingkan sebelumnya. Nanti akan kami evaluasi ke depan,” ujar Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Dewa Made Sudiarta.
Ia berjanji akan melakukan evaluasi seperti pemenuhan sarana dan prasarana, perbaikan sekolah, termasuk dengan tenaga pendidikan. Sehingga kegiatan belajar mengajar, tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Meski siswa minim, pemerintah tetap wajib melakukan dan memberikan layanan pendidikan di sekolah. Tentu dengan sarana dan prasarana serta tenaga pendidik yang ada.
”Evaluasi juga dilakukan agar kedepan persebaran murid merata. Jangan sampai ada yang siswanya lebih, ada yang sedikit, bahkan nol. Tentu ini untuk meningkatkan mutu kualitas pendidikan,” tegas Sudiarta.
Terpisah, Badan Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Gema Nusantara (LSM Genus), Anthonius Sanjaya Kiabeni mendesak Disdikpora Buleleng melakukan introspeksi kondisi sekolah.
Menurutnya, pendidikan adalah program prioritas. Maka dari itu, keseriusan semua pihak pun penting, dalam menangani kendala yang ada saat ini. Seperti kondisi di Buleleng sampai ada SD yang tidak ada murid barunya sama sekali.
”Ada evaluasi tentu kami sepakat. Tapi setelah itu langsung ada tindakan. Jangan hanya evaluasi biar ABS, asal bapak senang saja,” tegasnya.
Pihaknya pun memberi saran, sekolah yang terus menerus menerima siswa dalam jumlah kini, sebaiknya dilakukan regrouping. Apalagi bila sekolah berdekatan.
Apabila terjadi kendala infrastruktur, maka pemerintah wajib bertanggung jawab melakukan perbaikan sarana dan prasarana.
Demikian juga bila SDM-nya yang kurang. Maka pemerintah harus menambah SDM maupun melakukan perbaikan kompetensi tenaga pendidik.
”Harus ada komitmen kuat dari Pemkab Buleleng. Harus tegak lurus, jangan miring kiri, miring kanan, jangan sepotong-sepotong juga. Harus utuh menyelesaikan masalah. Supaya tidak terus saja setiap tahun, itu-itu saja masalahnya,” demikian Anton. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya