SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Buleleng tengah menghadapi masalah serius.
Buleleng diperkirakan kekurangan guru hingga seribu orang. Penyebabnya banyak guru pensiun serta promosi jabatan menjadi kepala sekolah dan pengawas.
Praktis kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas belajar-mengajar di sekolah.
Di SDN 1 Seririt misalnya, seorang guru terpaksa menggabungkan dua rombongan belajar menjadi satu kelas.
Alhasil, proses pembelajaran harus berlangsung dengan 50 siswa dalam satu ruangan. Situasi tersebut membuat kegiatan belajar jauh dari kata maksimal dan efektif.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengakui masalah ketidakmerataan guru ini semakin mendesak untuk ditangani.
Menurutnya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng sudah melakukan pemetaan jumlah tenaga pendidik di setiap satuan pendidikan.
Skema mutasi guru pun disiapkan untuk pemerataan. Sesuai prinsip, ASN harus siap ditempatkan di mana saja.
“Sesuai regulasi, guru berstatus PPPK yang sudah diangkat tidak boleh pindah, kecuali karena promosi menjadi kepala sekolah atau pengawas,” tegas Sutjidra.
Sekretaris Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, kekurangan guru ASN saat ini sementara ditutupi oleh guru honorer dan tenaga kontrak.
Namun, mereka belum bisa diangkat menjadi PPPK karena masa kerja masih di bawah dua tahun dan belum masuk database.
“Kalau dilihat dari data, kekurangan guru mencapai 390 orang. Non-ASN tersisa 582 orang. Ditambah yang pindah karena promosi kepsek dan pengawas, totalnya mendekati seribuan,” jelas Surya Bharata.
Sebagai solusi darurat, sekolah mengoptimalkan SDM yang ada. Guru kelas bahkan harus mengampu banyak mata pelajaran dengan beban mengajar mencapai 24 hingga 40 jam per minggu.
Kondisi ini semakin pelik karena pemerintah pusat sudah menutup peluang pengangkatan guru honorer. Sesuai aturan dalam UU ASN, pengangkatan guru honorer tidak lagi diizinkan.
Bahkan, penginputan data guru ke Dapodik sudah ditutup sejak 2024. Hal tersebut membuat Buleleng semakin sulit keluar dari masalah krisis guru ASN. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya