Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Guru SD di Buleleng Wajib Deteksi Dini Siswa yang Belum Lancar Membaca

Francelino Junior • Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:20 WIB

 

BELAJAR MEMBACA: Mahasiswa Hindu yang tergabung di KMHDI Buleleng saat menggelar program KMHDI Mengajar di Desa Pejarakan beberapa waktu lalu.
BELAJAR MEMBACA: Mahasiswa Hindu yang tergabung di KMHDI Buleleng saat menggelar program KMHDI Mengajar di Desa Pejarakan beberapa waktu lalu.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pemkab Buleleng kini menginstruksikan guru sekolah dasar untuk membantu mendeteksi dini siswa yang belum lancar membaca. 

Langkah tersebut dilakukan setelah tidak lagi mendapat pendampingan dari perguruan tinggi dalam penanganan anak dengan kesulitan membaca.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Ida Bagus Gde Surya Bharata mengatakan, deteksi dini sudah mulai dilakukan di sejumlah SD. 

Para guru diberikan pemahaman tentang cara mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, khususnya dalam kemampuan membaca.

“Kami mengundang guru-guru kelas III untuk melakukan asesmen sederhana. Tujuannya agar siswa yang kesulitan membaca bisa segera dipetakan dan ditangani. Program ini kami jalankan bersama Unit Layanan Disabilitas (ULD),” ujar Surya Bharata.

Ia menjelaskan, Disdikpora juga akan kembali menjalin komunikasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha. 

Sebelumnya, kampus tersebut sempat mendampingi anak-anak yang belum lancar membaca selama empat bulan, sebelum menyerahkan tindak lanjut penanganan kepada pemerintah daerah dan sekolah.

“Kami berharap ke depan ada kolaborasi lanjutan, termasuk jika Kemendikdasmen RI bisa turut membantu mengintervensi agar penanganan lebih menyeluruh,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya masih menunggu arahan Bupati Buleleng terkait kebijakan lanjutan, mulai dari strategi, sasaran, pendekatan, hingga dukungan fasilitas. 

Menurutnya penanganan siswa yang belum bisa membaca memerlukan sinkronisasi antara pendamping, sekolah, dan orang tua, karena masih ditemukan kendala di lapangan.

“Contohnya, ketika pendamping datang ke sekolah, ternyata anaknya tidak hadir. Ini perlu disesuaikan agar hasilnya maksimal,” lanjut Surya Bharata.

Sembari menunggu kebijakan lanjutan, pelayanan bagi siswa dengan kesulitan membaca tetap dilakukan melalui ULD. 

Unit tersebut menyiapkan layanan konsultasi bagi guru dan orang tua jika diperlukan pendampingan lebih intensif.

Disdikpora Buleleng turut menyiapkan Guru Pendidikan Khusus (GPK) yang akan bertugas secara reguler untuk membantu siswa. 

Mereka akan melakukan pertemuan satu hingga dua kali per minggu dan bergerak secara mobile ke sejumlah sekolah.

Saat ini tercatat ada empat GPK di Buleleng. Mereka akan bekerja dengan pola seperti pengawas sekolah, mengunjungi beberapa lokasi untuk memberikan bimbingan kepada siswa dengan kebutuhan belajar khusus.

“Kami tidak bisa serta-merta memindahkan anak ke pendidikan nonformal. Semua tetap kami fasilitasi sesuai kondisi dan kemampuan yang ada,” pungkas Surya Bharata. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#guru #pemkab buleleng #perguruan tinggi #Unit Layanan Disabilitas #pendidikan #Disdikpora #sekolah dasar #buleleng #siswa #membaca