SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Air adalah sumber kehidupan yang tak tergantikan. Namun, di tengah maraknya penggunaan air tanah yang kian mengkhawatirkan di Bali, sekelompok guru di SDN 4 Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, punya cara unik untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini.
Melalui program bertajuk Mekar (Membangun Edukasi Konservasi Air dan Ramah Lingkungan), mereka mengajarkan pentingnya menjaga air kepada para siswa bukan sekadar lewat teori, tapi juga lewat praktik nyata.
Plt. Kepala Sekolah SDN 4 Munduk, Gede Dedy Suwartawan menjelaskan, program tersebut menggabungkan kegiatan belajar dan aksi konservasi.
“Kami menanam pohon-pohon lokal yang ramah air seperti beringin, tulak, dan peji. Jenis pohon ini tahan musim kering dan bisa menyimpan cadangan air di dalam tanah,” jelasnya.
Taman sekolah yang rindang menjadi laboratorium kecil tempat para siswa belajar langsung.
Mereka bisa membaca, berdiskusi, atau sekadar bersantai sambil menikmati poster edukatif tentang pentingnya menjaga air dan ekosistem di sekitarnya.
Baca Juga: Terjerat Kasus di Gianyar, Pengusaha Properti Asal Buleleng jadi Tersangka Penggelapan Dana Konsumen
Tak hanya itu, sekolah ini juga mengajarkan siswa mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos.
Gagasan yang pertama kali dicetuskan oleh kepala sekolah sebelumnya, Dayu Sasmita, kini terus dikembangkan oleh guru dan siswa.
“Kami sediakan alat komposter agar anak-anak tahu bagaimana sampah organik bisa bermanfaat kembali untuk tanaman,” ujar Dedy.
Setiap hari Sabtu, SDN 4 Munduk juga rutin menggelar kegiatan Sabtu Bersih. Para siswa diajak memilah sampah dan membuat kompos dari daun-daun kering di halaman sekolah.
“Komposnya kami pakai kembali untuk taman sekolah. Sementara sampah plastik kami kirim ke TPA karena belum punya alat pengolahnya,” imbuhnya.
Berkat berbagai inovasi ramah lingkungan itu, SDN 4 Munduk berhasil menjadi pemenang Lomba Tirtanovasi, yang digelar oleh IDEP Selaras Alam melalui program Bali Water Protection (BWP).
Perwakilan IDEP Selaras Alam, Edward Angimoy, menjelaskan bahwa lomba tersebut mendorong sekolah di Bali untuk menjadi pusat inovasi konservasi air dengan pendekatan partisipatif.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang praktik nyata menjaga keberlanjutan air,” ujarnya.
Edward menambahkan, pendekatan Tirtanovasi menempatkan sekolah sebagai agen perubahan.
“Kami percaya masyarakat, termasuk sekolah, punya potensi besar melahirkan solusi lokal. Ini bukan untuk menggantikan peran negara, tapi untuk mempercepat penyelesaian masalah dengan menunjukkan inovasi dari masyarakat sendiri,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya