Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Perpustakaan Mahima Resmi Dibuka, Jadi Motor Baru Literasi dan Sastra di Buleleng

Eka Prasetya • Selasa, 31 Maret 2026 | 19:42 WIB
LITERASI: Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna (tengah) saat berkunjung ke Perpustakaan Mahima, pada Selasa (31/3/2026). (Pemkab Buleleng)
LITERASI: Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna (tengah) saat berkunjung ke Perpustakaan Mahima, pada Selasa (31/3/2026). (Pemkab Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Komitmen memperkuat budaya literasi di Kabupaten Buleleng, Bali, mendapat suntikan energi baru. 

Perpustakaan Mahima yang berlokasi di Jalan Pantai Indah III Nomor 46, Singaraja, resmi dibuka untuk umum, Selasa (31/3/2026).

Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, didampingi jajaran perangkat daerah serta pengurus Yayasan Mahima Institute Indonesia. 

Ketua Yayasan Mahima Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti, menyebut perpustakaan dengan sekitar 3.000 koleksi buku ini sebagai “hadiah” untuk Kota Singaraja. 

Meski masih memiliki keterbatasan, terutama pada ruang baca, pihaknya berharap keberadaan fasilitas ini mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ini mungkin ruangnya kecil, tapi visinya besar. Kami ingin menjadikan Singaraja sebagai kota literasi, kota sastra, dan kota pendidikan,” ujarnya.

Ia juga berharap dukungan pemerintah daerah untuk memperkuat berbagai program literasi yang dijalankan Mahima, khususnya bagi pelajar di Buleleng.

Sementara itu, Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, memberikan apresiasi atas kehadiran Perpustakaan Mahima yang dinilai strategis dalam menjaga denyut sastra di Buleleng.

“Kalau tidak ada Mahima, saya khawatir seni sastra di Buleleng akan semakin redup, bahkan bisa hilang. Maka keberadaan perpustakaan ini sangat penting untuk masa depan literasi kita,” tegasnya.

Ia mendorong pelajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan perpustakaan tersebut tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi, interaksi, dan pengembangan diri.

“Manfaatkan tempat ini sebaik-baiknya. Di sini bukan hanya membaca buku, tapi juga bisa berdiskusi dan tumbuh bersama dalam dunia literasi dan budaya,” ajaknya.

Lebih jauh, Supriatna juga menekankan pentingnya memberi ruang yang seimbang bagi seluruh cabang seni, termasuk sastra yang selama ini dinilai belum mendapat panggung yang cukup.

“Jangan hanya gong kebyar yang tampil. Sastra juga perlu ruang, misalnya lewat pembacaan puisi atau kegiatan literasi lainnya,” ujarnya.

Ia turut mendorong sinergi antara komunitas Mahima dengan lembaga budaya seperti Gedong Kirtya, guna memperkuat literasi berbasis kearifan lokal di kalangan generasi muda.

Diketahui, Mahima telah berkembang sejak 2008 dengan berbagai kegiatan, mulai dari sastra, teater, film, musikalisasi puisi, hingga jurnalisme warga. 

Kehadiran perpustakaan tersebut diharapkan menjadi pusat aktivitas literasi yang inklusif dan berkelanjutan di Buleleng. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #Mahima #buleleng #perpustakaan #literasi