Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Buleleng untuk Indonesia, Semangat I Gusti Ketut Pudja Kembali Dihidupkan di Undiksha

Francelino Junior • Rabu, 20 Mei 2026 | 09:14 WIB
MENGENANG MR. PUDJA: Suasana seminar bertajuk "Memperingati Hari Lahir Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Pudja" yang digelar di Undiksha pada Selasa (19/5/2026). (Humas Undiksha)
MENGENANG MR. PUDJA: Suasana seminar bertajuk "Memperingati Hari Lahir Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Pudja" yang digelar di Undiksha pada Selasa (19/5/2026). (Humas Undiksha)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Tanggal 19 Mei menjadi momen istimewa bagi masyarakat Bali, khususnya Buleleng. 

Pada tanggal inilah lahir salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, MR. I Gusti Ketut Pudja, sosok yang turut terlibat dalam proses lahirnya Republik Indonesia.

Lahir di Buleleng pada 19 Mei 1908, I Gusti Ketut Pudja dikenal sebagai figur sederhana dengan semangat belajar yang tinggi. 

Namanya tercatat sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili wilayah Sunda Kecil, meliputi Bali dan Nusa Tenggara.

Tak hanya itu, Pudja juga menjadi salah satu tokoh yang hadir dalam perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama para pendiri bangsa lainnya.

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno mempercayainya menjabat sebagai Gubernur Sunda Kecil. 

Atas dedikasi dan pengabdiannya kepada bangsa, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011. Namanya bahkan diabadikan dalam uang logam pecahan Rp 1.000 pada tahun 2016.

Semangat perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskan Pudja kembali dihidupkan melalui seminar bertajuk “Memperingati Hari Lahir Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Pudja” yang digelar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Selasa (19/5/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil Bali, Arya Wedakarna, sebagai upaya menghidupkan kembali semangat perjuangan dan keteladanan Pudja di tengah generasi muda.

Seminar itu tidak sekadar menjadi ruang mengenang sejarah, tetapi juga refleksi tentang relevansi nilai perjuangan I Gusti Ketut Pudja di tengah tantangan zaman modern.

Akademisi sejarah Undiksha, Prof. I Made Pageh, dalam pemaparannya bertajuk “Lampah Pudja untuk Generasi Masa Kini” menyoroti perjalanan hidup Pudja sebagai simbol ketekunan, integritas, dan persatuan.

Menurutnya, Pudja membuktikan keterbatasan bukan penghalang untuk meraih keberhasilan.

“Pudja belajar dari nol, dari pendidikan privat di rumah hingga mampu meraih gelar hukum tertinggi. Semangat belajar itulah senjata paling kuat yang diwariskan kepada generasi sekarang,” ungkapnya.

Pageh juga menilai Pudja merupakan gambaran birokrat sejati yang bekerja tanpa ambisi kekuasaan.

“Warisan terbesar beliau bukan jabatan, tetapi integritas,” tegasnya.

Tak hanya itu, gaya kepemimpinan Pudja yang persuasif dan mampu merangkul para raja di Bali disebut menjadi pelajaran penting dalam menjaga persatuan bangsa saat ini.

“Pemimpin sejati itu menyatukan, bukan memecah belah,” tambahnya.

Menurut Pageh, salah satu warisan terbesar I Gusti Ketut Pudja adalah lahirnya frasa “Tuhan Yang Maha Esa” yang menjadi titik temu keberagaman di Indonesia.

“Beliau menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan untuk persatuan,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Buleleng, I Gede Diyana Putra, mengangkat tema “Gerakan Menuturkan Kembali Bali Utara secara Lisan.”

Ia menyoroti mulai jauhnya generasi muda dari sejarah lokal akibat semakin minimnya tradisi tutur dan ruang-ruang bercerita tentang sejarah daerah.

Karena itu, menurutnya, perlu ada gerakan nyata untuk kembali menanamkan nilai perjuangan para pahlawan kepada generasi muda. 

Mulai dari pentas penutur sejarah, sejarah keliling sekolah, malam tutur sejarah, napak tilas, podcast dokumentasi sejarah, hingga festival sejarah.

“Sejarah tidak boleh berhenti di buku. Ia harus hidup dalam cerita, dalam tutur, dan dalam ingatan generasi muda,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#sunda kecil #bali #pahlawan nasional #undiksha #buleleng