RadarBuleleng.id - Ajang pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Bali akan segera dihelat. Masyarakat pun diharapkan cerdas dalam memilih calon pemimpin mereka.
Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa punya cara sendiri dalam mengedukasi masyarakat, agar masyarakat lebih politik. Ujungnya, masyarakat bisa memilih calon yang kompeten sesuai pilihan mereka.
Edukasi itu dilakukan lewat Webinar Series of Communication yang digelar Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Hindu Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Baca Juga: Jejak Politisi Bali Membangun Politik Dinasti dan Oligarki
Webinar dengan tema Strategi Komunikasi Politik Jelang Pilkada Bali 2024 itu berlangsung pada Selasa (14/5/2024) kemarin.
Sejumlah guru besar didaulat sebagai pembicara. Yakni Direktur Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Prof. Dr. Relin Denayu Ekawati, dan Direktur Politeknik eLBajo Commodus, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa.
Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. I Dewa Ayu Hendrawathy Putri mengatakan, kampus sengaja membuka ruang webinar sebagai mimbar akademis.
“Kami selalu mengangkat tema-tema yang relevan dalam isu-isu terkini khususnya dalam bidang ilmu komunikasi. Karena kali ini Pilkada serentak sedang hangat, maka angkat tema tersebut dari aspek strategi komunikasi politik,” ungkapnya.
Baca Juga: Dinasti Politik di Bali: Jejak Keluarga Politisi pada Pemilu 2024
Sementara Prof. Dr. Relin Denayu Ekawati dalam makalahnya mengatakan, perhelatan Pilkada serentak pada 27 November 2024 mendatang sangat penting. Sebab pada agenda tersebut masyarakat akan memilih bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota, serta gubernur dan wakil gubernur.
“Kami berharap kualitas Pilkada serentak 2024 nanti tetap dijaga, agar masyarakat tidak terprovokasi. Semua sudah ada aturannya. Intinya kita jangan ‘baper’ dengan strategi politik elit, apalagi sampai bertengkar dengan keluarga gara-gara beda pilihan politik,” kata Relin.
Selanjutnya, Prof. Dasi Astawa mengatakan, dalam politik komunikasi menjadi kunci yang sangat vital. Ia berpendapat masyarakat seharusnya tidak perlu alergi dengan politik. Sebaliknya politik harus menjadi santapan rohani dan jasmani.
Dengan memahami politik, maka masyarakat akan semakin menghargai perbedaan. “Inti dari demokrasi adalah menghargai perbedaan. Politik juga sebuah investasi intelektual, investasi sosial dan kultural, investasi ekonomi, politik dan spiritual,” ujarnya.
Dasi Astawa mengatakan, masyarakat kini harus kritis dengan program-program yang ditawarkan oleh para politisi. Sehingga tidak terjebak dengan janji-janji semu belaka.
“Kita perlu kritis dengan ide-ide yang benar-benar dapat menjadi solutif, jangan kritis tanggung,” tegasnya.
Pria yang mantan Koordinator Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Bali dan Nusa Tenggara itu juga banyak mengulas konsep “politik cinta kasih”. Menurutnya pemimpin harus cerdas dan berjiwa transformatif, membangun kader, membangun Bali. “Politik bukan hanya membangun diri sendiri dan keluarga,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya