Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mengintip Sekolah Kader Elite Tiongkok, Tempat Mencetak Pejabat dan Pemikir

Eka Prasetya • Minggu, 21 Juni 2026 | 10:30 WIB
SEKOLAH PARTAI: Agenda perkuliahan di Central Party School of the Communist Party of China (CPC), sekolah kader milik Partai Komunis Tiongkok. Sekolah ini didirikan untuk mencetak kader, pejabat pemerintahan, serta pemikir dan perumus kebijakan negara. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
SEKOLAH PARTAI: Agenda perkuliahan di Central Party School of the Communist Party of China (CPC), sekolah kader milik Partai Komunis Tiongkok. Sekolah ini didirikan untuk mencetak kader, pejabat pemerintahan, serta pemikir dan perumus kebijakan negara. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

Puluhan jurnalis dari berbagai negara mendadak sibuk mengeluarkan ponsel sesaat setelah turun dari bus. Bukan karena ada selebritas atau atraksi khusus. 

Di hadapan kami adalah salah satu institusi paling berpengaruh dalam sistem politik Tiongkok: Central Party School of the Communist Party of China (CPC), sekolah kader milik Partai Komunis Tiongkok.

Kunjungan itu berlangsung Kamis (18/6/2026) siang dalam rangkaian program China International Press Communication Center (CIPCC). Berlokasi di Distrik Haidian, Beijing, kompleks sekolah partai tersebut jauh dari kesan kampus biasa.

Kawasannya begitu luas. Gedung perkuliahan, kantor, asrama, museum, hingga area hijau tertata dalam satu lingkungan yang menyerupai sebuah kota kecil. Suasana tenang dan rapi langsung terasa sejak memasuki gerbang utama.

Bagi para peserta CIPCC, kesempatan masuk ke kawasan tersebut terbilang langka. Selama ini Central Party School dikenal sebagai lembaga yang bertugas mendidik kader partai, pejabat pemerintahan, hingga pimpinan perusahaan milik negara. Dari tempat inilah banyak pemimpin Tiongkok mendapatkan pelatihan sebelum menduduki posisi strategis.

Namun, rasa penasaran para jurnalis sempat terbentur aturan yang cukup ketat.

Saat memasuki museum sejarah sekolah partai, seluruh peserta diminta menyimpan ponsel dan kamera. Tidak ada foto maupun video yang diperbolehkan di dalam ruang pameran. Dokumentasi hanya bisa dilakukan di area luar gedung.

Meski demikian, aturan tersebut tidak mengurangi antusiasme peserta untuk menyimak perjalanan panjang institusi yang telah berdiri sejak 1933 itu. Di dalam museum, pengunjung diajak menelusuri sejarah sekolah partai sejak masa revolusi, perjalanan pembangunan negara, hingga transformasinya menjadi pusat pendidikan pejabat modern.

Kini usia lembaga tersebut telah melampaui sembilan dekade. Pada 2023 lalu, sekolah partai merayakan hari jadinya yang ke-90 yang turut dihadiri Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Agenda berikutnya membawa rombongan menuju ruang perkuliahan. Di sana, peserta mengikuti kuliah umum dan dialog bersama Prof. Xie Chuntao, Wakil Presiden Central Party School sekaligus anggota Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok periode ke-20.

Dalam paparannya bertajuk “The Story of the Communist Party of China in the New Era”, Prof. Xie menjelaskan fungsi sekolah partai yang tidak hanya melayani kebutuhan organisasi partai, tetapi juga mendukung sistem pemerintahan Tiongkok.

“Ini bukan hanya sekolah untuk partai, tetapi juga untuk pemerintahan,” ujarnya.

Menurut Prof. Xie, puluhan juta kader dan pejabat telah mengikuti berbagai program pendidikan yang diselenggarakan lembaga tersebut, baik secara langsung maupun melalui platform daring. Selain melatih peserta domestik, sekolah partai juga menjalin kerja sama dengan lebih dari 160 negara melalui berbagai program internasional.

Di hadapan peserta CIPCC, ia juga menyoroti sejumlah capaian pembangunan Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir. Salah satunya sektor kendaraan listrik yang kini berkembang sangat pesat.

“Setiap tahun pengguna kendaraan listrik di Tiongkok tumbuh lebih dari 60 persen. Itu belum termasuk ekspor,” katanya.

Selain kendaraan listrik, Prof. Xie juga menyinggung kemajuan industri teknologi dan semikonduktor yang menurutnya lahir dari investasi besar pada riset, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Bagi para jurnalis internasional, sesi tersebut menjadi kesempatan untuk memahami cara Tiongkok membangun institusi pemerintahan dan menyiapkan aparatur negara dalam mendukung agenda pembangunan jangka panjang.

Gladys Mungai, jurnalis Kenya Broadcasting Corporation (KBC), mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti dialog tersebut.

“Hari ini saya tidak hanya melihat pelatihan administrasi publik. Saya melihat sebuah filosofi tata kelola yang dibangun di atas disiplin, institusi, dan perencanaan jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Gladys, salah satu pelajaran yang paling menarik adalah bagaimana akuntabilitas ditempatkan sebagai fondasi dalam tata kelola pemerintahan.

“Kantor publik adalah sebuah kepercayaan. Akuntabilitas tidak bisa ditawar bagi negara yang ingin stabil dan berkembang,” katanya.

Menjelang sore, rombongan meninggalkan kompleks sekolah partai dengan berbagai catatan di tangan. Sebagian peserta masih mendiskusikan materi kuliah yang baru saja mereka terima. Sebagian lainnya memperdebatkan model pembangunan dan tata kelola yang diterapkan Tiongkok.

Bagi saya, kunjungan tersebut bukan soal menyetujui atau menolak sebuah sistem politik. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana negara dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa membangun institusi, menyiapkan calon pemimpinnya, dan merancang stabilitas pembangunan untuk jangka panjang. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#museum #tiongkok #politik #buleleng #jurnalis