Desa Banjarasem, Buleleng, resmi memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pertama yang mengaliri balai desa. Langkah awal transisi energi bersih berbasis komunitas di Bali.
SIANG itu, Rabu (27/8/2025), matahari Bali bersinar terik. Suhu udara di Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali tercatat 29°C.
Di bawah cuaca yang begitu khas pesisir utara Bali itu, semangat warga Banjarasem justru memuncak.
Di atap seng balai desa yang masih sederhana, kini berdiri enam panel surya yang kokoh.
Dari atap sederhana itu, cahaya matahari diubah menjadi listrik. Tenaga bersih ini mulai menghidupkan kegiatan warga setiap hari.
“Kami berharap Desa Banjarasem jadi contoh bagaimana energi bersih bisa mendekatkan warga, menghemat biaya, dan membuka akses yang lebih luas bagi semua,” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tersebut.
Kepala Desa Banjarasem, Made Sirsa mengisahkan perjalanan menuju energi terbarukan ini dimulai sejak Februari 2025.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan masyarakat dan menyiapkan segala hal teknis. Hingga akhirnya, 13 Juli lalu, panel-panel surya dipasang. Dua hari kemudian, listrik langsung mengalir.
“Selama 43 hari ini, kami hanya habiskan 2,66 kWh. Pengiritan sekitar Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu. Padahal belum dimanfaatkan maksimal karena lampu-lampu belum semua terpasang,” jelasnya dengan wajah sumringah.
PLTS berkapasitas 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh ini kini menjadi denyut energi baru bagi balai desa.
Dari posyandu balita, kelas ibu hamil, hingga olahraga sore dan pertunjukan budaya malam hari, semua kini tak lagi dibatasi oleh biaya listrik.
“Dengan adanya bantuan seperti ini, aktivitas warga kami semakin meningkat. Mereka merasa lega karena tidak lagi khawatir soal biaya listrik,” imbuh Sirsa.
Program Desa Berbasis Energi Terbarukan (DBET) yang dijalankan IESR memang sejalan dengan target Bali menuju Net Zero Emission (NZE) pada 2045.
Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menyambut inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Banjarasem.
“Terima kasih sudah membantu meyakinkan masyarakat untuk mengenali, memahami, dan menghitung manfaatnya. Ini sangat penting agar masyarakat akhirnya menjatuhkan pilihan pada energi bersih,” ucapnya.
Untuk menjaga keberlanjutan, desa bahkan membentuk tim pemantau harian. “Kami pakai staf desa supaya bisa dicek setiap hari. Kalau ada gangguan, kami video call tim teknis IESR. Jadi cepat tanggap,” kata Sirsa.
Semangat warga Banjarasem perlahan menjelma jadi rasa ingin tahu yang besar.
“Banyak warga yang bertanya, berapa harga panelnya, bisa dibeli atau tidak. Artinya, masyarakat sudah mulai tertarik. Mereka lihat sendiri manfaatnya,” jelas Sirsa.
Antusiasme ini bukan hanya di Banjarasem. Di Karangasem, Desa Baturinggit sudah merasakan manfaat PLTS 3,48 kWp untuk pompa air bersih.
Di Nusa Penida, panel surya berkapasitas 5,95 kWp sedang dipasang di kantor camat, dan di SDN 1 Batununggul tengah berjalan instalasi PLTS 2,46 kWp.
“Langkah kecil ini bagian dari tujuan besar. Kami ingin meninggalkan energi fosil dan membangun ketahanan energi berbasis komunitas,” tegas Fabby Tumiwa.
Peresmian itu bukan hanya simbol hadirnya enam panel surya, tetapi juga titik balik bagi Banjarasem.
Dari sebuah desa sederhana di pesisir utara Bali, energi yang bersih, murah, dan dikelola komunitas mulai bergerak.
Dari panasnya siang itu, Desa Banjarasem memulai langkah kecil menuju masa depan tanpa emisi. Dan semuanya bermula dari atap balai desa yang belum sepenuhnya rampung, tapi sudah mampu menyalakan harapan banyak orang. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya