Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ribuan Krama Desa Adat Nagasepaha Gelar Melasti. Sesuai Tradisi, Cukup di Penyawangan Pura Segara

Eka Prasetya • Jumat, 28 Maret 2025 | 00:20 WIB

 

MELASTI: Prosesi melasti krama Desa Adat Nagasepaha, Buleleng. Krama cukup melasti sampai penyawangan Pura Segara.
MELASTI: Prosesi melasti krama Desa Adat Nagasepaha, Buleleng. Krama cukup melasti sampai penyawangan Pura Segara.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, ribuan krama Desa Adat Nagasepaha, Buleleng, menggelar upacara melasti. 

Upacara penyucian itu berlangsung di Penyawangan Pura Segara, pada Kamis (27/3/2025) pagi.

Prosesi melasti sudah dimulai sejak pukul 07.00 WITA dari Pura Desa setempat. Sebanyak 19 sarad (pralingga suci) dari berbagai Dadia dan Pura Kahyangan Desa diusung oleh para krama menuju lokasi penyawangan. 

Lokasi itu berada di perbatasan antara Desa Nagasepaha dengan Desa Sari Mekar, yang berjarak kurang lebih sekitar satu kilometer dari pusat desa.

Kelian Desa Adat Nagasepaha, I Made Darsana menjelaskan, sesuai tradisi upacara melasti di Desa Adat Nagasepaha memang hanya sampai di Pura Penyawangan Pura Segara.

Berbeda dengan desa lain yang melasti langsung ke pantai, krama di Desa Adat Nagasepaha melaksanakan upacara melasti karena keberadaan sumber mata air suci dan pemandian yang berada di dekat penyawangan.

“Penyawangan ini sudah dianggap sebagai simbol Segara yang disucikan. Selain lebih dekat, juga ada sumber air dan pemandian yang dianggap keramat oleh warga,” ujar Darsana.

Meski begitu, saat Piodalan Agung di Pura Kahyangan Tiga – yakni Pura Dalem, Pura Prajapati, dan Pura Desa – yang digelar dua tahun sekali, krama tetap akan melasti langsung ke pantai. 

Prosesi ini juga sekaligus dirangkaikan dengan Mendak Tirta Sanjiwani, yakni memohon air suci kepada Ida Bhatara Baruna demi kerahayuan dan keharmonisan jagat.

"Makna melasti tetap sama, yaitu menyucikan diri secara lahir dan batin. Dalam skala (dunia nyata), ini adalah simbol pembersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan buruk. Air suci melambangkan kehidupan yang bersih dan penuh keseimbangan,” terangnya.

Usai melasti, rangkaian upacara dilanjutkan dengan Pecaruan Agung di Catus Pata (pusat desa) saat Pengerupukan pada Jumat (28/3/2025) besok. Setelah itu, warga akan menggelar pawai ogoh-ogoh dan melaksanakan prosesi penyepian.

Darsana menegaskan, selama Hari Nyepi, Pecalang Desa akan dikerahkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

“Kami sudah imbau para pecalang untuk aktif berpatroli, memastikan kesucian Nyepi tetap terjaga di seluruh wilayah desa,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Nagasepaha #krama #Pura Segara #mata air #DADIA #nyepi #Desa adat #upacara #buleleng #melasti #pura