Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sindiran Tajam ST Abhirama Devari: Ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi Sentil Penyebar Hoaks

Francelino Junior • Jumat, 28 Maret 2025 | 20:24 WIB

 

PENUH KRITIK: Ogoh-ogoh dengan tema "Bhuta Dasa Angkara Bumi" yang dibuat oleh Sekaa Truna Abhirama Devari, Banjar Adat Liligundi, Desa Adat Buleleng.
PENUH KRITIK: Ogoh-ogoh dengan tema "Bhuta Dasa Angkara Bumi" yang dibuat oleh Sekaa Truna Abhirama Devari, Banjar Adat Liligundi, Desa Adat Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol pengusiran energi negatif menjelang Hari Suci Nyepi, tetapi juga bisa menjadi media penyampai kritik sosial. 

Hal inilah yang diwujudkan oleh Sekaa Truna (ST) Abhirama Devari dari Kelurahan Liligundi, Kecamatan Buleleng, lewat karya mereka bertajuk "Bhuta Dasa Angkara Bumi".

Ketua ST Abhirama Devari, Ida Bagus Eka Permana Putra, mengungkapkan bahwa ogoh-ogoh ini menyindir fenomena penyebaran hoaks di era digital, yang dinilai sebagai bentuk wabah zaman modern.

“Kami melihat penyebar hoaks di media sosial sebagai wujud Bhuta Dasa Angkara Bumi yang menyebarkan kekacauan. Sama seperti wabah di masa lalu, hoaks juga memecah-belah masyarakat,” ujarnya.

Eka menjelaskan, ide awal ogoh-ogoh ini terinspirasi dari keberadaan bungkak (kelapa muda) yang selalu digunakan dalam upacara Hindu. 

Dari penelusuran mereka ke Lontar Kelapa Tattwa, bungkak ternyata bukan sekadar perlengkapan ritual, melainkan simbol penting dalam kisah penyucian bumi dari wabah yang disebabkan oleh kekuatan jahat bernama Bhuta Dasa Angkara Bumi.

Dalam cerita tersebut, Bhagawan Wraspati diutus oleh Dewa Siwa untuk menyelidiki penyebab wabah yang melanda bumi. 

Setelah melakukan tapa yoga, ia menemukan bahwa penyebabnya adalah kekuatan kala yang merasuki tumbuhan. 

Selanjutnya Bhagawan Wraspati menyucikan bumi dengan air suci, yang kemudian memunculkan pohon kelapa sebagai penawar racun dan simbol pemulihan.

“Pesan moralnya, dulu wabah muncul dari alam. Sekarang, wabah itu bisa datang dari informasi yang salah. Kami ingin menyuarakan itu melalui karya seni,” tambah Eka.

Ogoh-ogoh yang mereka ciptakan berbentuk huruf J, dengan dominasi visual raksasa Bhuta Dasa Angkara Bumi, kelapa muda sebagai simbol penyucian, serta bumi yang dikelilingi unsur air dan api. 

Proses kreatif ini memakan waktu dua bulan dan menelan biaya hingga Rp 30 juta. Dengan tinggi mencapai 4 meter, lebar 5 meter, dan berat sekitar 350 kilogram, ogoh-ogoh ini siap mencuri perhatian saat parade pengerupukan.

Karya ini bukan hanya atraktif dari sisi estetika, tetapi juga menyampaikan refleksi sosial yang kuat, mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi di tengah derasnya arus digital. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ogoh-ogoh #wabah #sekaa truna #Liligundi #buleleng #hoaks #media sosial