Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Bangkai Paus Sperma Terdampar di Pantai Lovina, Alat Berat Dikerahkan untuk Melakukan Penguburan Darurat

Eka Prasetya • Senin, 12 Januari 2026 | 16:05 WIB

 

SUDAH MEMBUSUK: Penemuan bangkai paus sperma yang telah membusuk di pesisir Pantai Lovina.
SUDAH MEMBUSUK: Penemuan bangkai paus sperma yang telah membusuk di pesisir Pantai Lovina.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Bangkai mamalia laut berukuran besar ditemukan terdampar di pesisir Pantai Lovina, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Bali, pada Minggu (11/1/2026) malam. 

Bangkai tersebut diduga kuat merupakan paus sperma (Physeter macrocephalus) dan ditemukan dalam kondisi sudah membusuk parah hingga menimbulkan bau menyengat di kawasan wisata tersebut.

Adapun bangkai mamalia laut tersebut ditemukan di sisi timur Pantai Lovina. Tepatnya di sebelah timur Setra Desa Adat Kalibukbuk.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) sekaligus Yayasan Banyumilir Kalibukbuk, I Ketut Wiryadana mengatakan, penemuan bermula dari laporan anggota Pokmaswas pada Sabtu malam. 

Awalnya, anggota mendapati adanya benda asing di pesisir pantai saat kondisi sudah gelap. Lama kelamaan tercium bau menyengat yang mengganggu warga.

“Setelah dicek, kami menduga itu bangkai mamalia laut,” ujar Wiryadana.

Ia menjelaskan, kondisi bangkai yang sudah sangat buruk menyulitkan proses identifikasi. Karena itu, pihaknya segera berkoordinasi dengan sejumlah instansi berwenang, diantaranya pemerintah kabupaten, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, BKSDA Bali, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Kelautan (DKPP) Buleleng untuk menentukan langkah penanganan lanjutan.

“Karena kondisinya sudah sangat busuk, sangat sulit mengidentifikasi jenisnya secara pasti. Kami juga harus berhati-hati karena tidak tahu penyebab kematiannya, apakah ada infeksi atau hal lain yang perlu diwaspadai,” jelasnya.

Dari hasil koordinasi tersebut, BPSPL dan BKSDA memberikan tiga opsi penanganan, yakni bangkai ditarik ke laut untuk ditenggelamkan, dibakar, atau dikubur. Namun cuaca laut yang tidak bersahabat membuat opsi penenggelaman tidak memungkinkan dilakukan.

“Kondisi cuaca tidak mendukung, sehingga opsi penenggelaman tidak bisa dilakukan. Sementara bau bangkai sudah sangat menyengat,” kata Wiryadana.

Setelah berkoordinasi kembali dengan pemerintah desa, desa adat, pengelola daya tarik wisata (DTW) Lovina, serta Pokmaswas dan Yayasan Banyumilir, disepakati penanganan darurat dengan cara mengubur bangkai paus secara swadaya. 

Proses penguburan dilakukan menggunakan alat berat yang disewa khusus, dengan seizin instansi terkait.

“Ini kejadian pertama di Lovina dengan mamalia laut sebesar ini, sehingga kami perlu koordinasi tata cara penanganannya. Karena kondisi sudah mendesak dan bau menyengat, kami sepakat melakukan penguburan,” ujarnya.

Ke depan, Yayasan Banyumilir berencana mengusulkan penggalian ulang bangkai paus tersebut untuk mengambil tulang-belulangnya. Rencana ini akan diajukan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai bahan edukasi bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Perikanan pada Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Abdul Manap menyebut bangkai paus tersebut pertama kali terindikasi terdampar sejak Sabtu sore.

Berdasarkan pengecekan di lapangan, bangkai paus sudah lama mati di lokasi lain sebelum akhirnya terdampar di Pantai Lovina. Identifikasi hanya bisa dilakukan berdasarkan bentuk tubuh, karena kondisi bangkai tidak memungkinkan untuk pengambilan sampel.

“Dari bentuk tubuhnya, kami mengindikasikan ini paus sperma. Panjang bagian yang tersisa sekitar empat meter, diduga bagian pertengahan badan hingga ekor,” ujar Abdul Manap.

Ia menambahkan, dalam penanganan mamalia laut terdampar terdapat beberapa opsi, seperti penenggelaman ke laut atau penguburan. 

Jika dikubur, bangkai tersebut masih bisa digali kembali di kemudian hari untuk diambil tulangnya dan dirangkai sebagai sarana edukasi. Hanya saja biayanya cukup besar.

Dalam setahun terakhir, sejumlah mamalia laut juga tercatat terdampar di perairan Buleleng. “Rata-rata yang ditemukan di perairan Buleleng memang paus sperma,” demikian Manap. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#wisata #bali #mamalia laut #setra #kalibukbuk #bksda #pokmaswas #DTW #lovina #Desa adat #pantai lovina #paus sperma #buleleng #mamalia #bangkai