SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Video perkelahian dua remaja putri di kawasan Jalan Gunung Lempuyang, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, Bali, mendadak menjadi sorotan publik.
Rekaman berdurasi 59 detik yang beredar luas di media sosial itu memicu beragam komentar warganet dan kini tengah ditangani aparat kepolisian.
Dalam video yang viral tersebut, dua remaja putri yang mengenakan pakaian hitam dan putih terlihat terlibat baku hantam di sebuah area terbuka.
Sejumlah remaja lainnya tampak berada di sekitar lokasi dan menyaksikan peristiwa tersebut tanpa berusaha melerai.
Suasana semakin memanas ketika salah satu remaja terlihat terjatuh dan menangis.
Bahkan, terdengar suara dalam rekaman yang menyebut korban sempat mengalami kondisi tidak nyaman akibat perkelahian itu.
Setelah duel berakhir, salah satu remaja juga terlihat mengambil air dari sepeda motor lalu menyiramkannya ke arah lawannya.
Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Gede Juli membenarkan pihaknya telah menerima informasi terkait video yang viral tersebut.
Saat ini polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara utuh kronologi maupun penyebab terjadinya perkelahian.
"Benar, kami sedang menangani kasus ini. Saat ini masih dalam proses penyelidikan untuk mengetahui secara pasti kronologi dan penyebab kejadian," ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Polisi berencana memanggil kedua remaja yang terlibat beserta sejumlah saksi yang berada di lokasi saat kejadian.
Pemeriksaan dijadwalkan dilakukan pada awal pekan ini untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai duduk persoalan.
"Para pihak yang terlibat akan kami mintai keterangan, kemungkinan Selasa atau Rabu. Dari situ nanti akan diketahui secara jelas duduk perkaranya," tambahnya.
Sementara itu tokoh masyarakat sekaligus pengacara Gede Pasek Suardika menilai kejadian tersebut menjadi cerminan tantangan pergaulan remaja di era media sosial.
Menurutnya, konflik di kalangan anak muda bukanlah hal baru. Namun, perkembangan teknologi membuat setiap kejadian lebih mudah terekspos dan menjadi konsumsi publik.
"Dulu kalau ada masalah di kalangan anak muda biasanya diselesaikan secara langsung, lalu setelah itu didamaikan. Bahkan banyak yang akhirnya tetap berteman," kata Pasek.
Meski demikian, ia menyoroti tindakan yang terjadi setelah perkelahian berakhir, yakni penyiraman air ke arah lawan.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak mencerminkan sikap sportif dan justru berpotensi mempermalukan pihak lain.
"Kalau sudah selesai seharusnya dihentikan. Jangan sampai ada tindakan yang mempermalukan pihak lain. Itu tidak mendidik," tegasnya.
Pasek juga mengingatkan pentingnya menyediakan ruang-ruang positif bagi remaja untuk menyalurkan energi dan ekspresi diri, seperti kegiatan olahraga, seni, maupun bela diri yang memiliki sistem pembinaan yang jelas.
Selain itu, ia menilai peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi sangat penting di tengah kesibukan orang tua yang kerap mengurangi intensitas pengawasan terhadap anak.
"Perlu lebih banyak kegiatan positif yang melibatkan remaja. Baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan, supaya mereka tidak salah arah dalam menggunakan waktu luang," ungkapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya