100 Tukik Lekang Dilepas di Pantai Camplung, Penanda Baru Konservasi Penyu di Buleleng

Francelino Junior • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:28 WIB
LEPAS TUKIK: Pelepasliaran tukik yang dilakukan di Pantai Camplung, Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)
LEPAS TUKIK: Pelepasliaran tukik yang dilakukan di Pantai Camplung, Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Sebanyak seratus ekor tukik lekang (Lepidochelys olivacea) dilepasliarkan dari Pantai Camplung, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, pada Minggu (16/8/2026) pagi. 

Pelepasan tersebut sekaligus menjadi yang pertama dilakukan di kawasan pantai tersebut.

Ratusan anak penyu itu sebelumnya menetas dari telur yang ditemukan di sekitar Pantai Camplung. 

Telur-telur tersebut kemudian dievakuasi oleh Desa Adat Banyuasri untuk menghindari ancaman predator dan gangguan lainnya.

Sebelum dilepasliarkan, tukik dirawat oleh Komunitas Kurma Segara Raksa di bawah naungan Desa Adat Banyuasri. Pelepasan perdana tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra.

Ketua Komunitas Kurma Segara Raksa, Nyoman Sadwika mengatakan, Pantai Camplung dan kawasan sekitarnya memang merupakan salah satu habitat penyu untuk bertelur. 

Bahkan, sepanjang Mei hingga Agustus, pihaknya menemukan hingga 10 titik lokasi peneluran.

”Kawasan ini memang habitat penyu untuk bertelur. Bahkan sampai sepuluh titik di Mei sampai Agustus,” ujar Sadwika.

Menurut dia, telur-telur yang ditemukan selama ini harus dievakuasi ke lokasi sementara. 

Langkah tersebut dilakukan karena fasilitas penangkaran yang representatif belum tersedia, termasuk terkait perizinan penangkaran.

Karena itu, Sadwika mengajak masyarakat ikut berperan dalam menjaga keberadaan penyu. 

Apabila menemukan telur penyu di sekitar Pantai Camplung dan kawasan sekitarnya, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait.

Pelaporan tersebut penting untuk mencegah telur penyu menjadi sasaran predator seperti anjing dan biawak. 

Ancaman juga bisa datang dari aktivitas manusia, termasuk anak-anak yang belum memahami pentingnya menjaga telur penyu.

Upaya perlindungan selama ini dilakukan melalui pengawasan bersama antara Komunitas Kurma Segara Raksa dan Desa Adat Banyuasri. Namun, menurut Sadwika, konservasi membutuhkan dukungan masyarakat secara lebih luas.

Selain konservasi, kawasan Pantai Camplung juga telah disiapkan dalam rencana pengembangan wisata. 

Sadwika menyebut telah ada grand design yang mencakup kawasan Pantai Camplung dan sekitarnya sebagai kawasan wisata bahari.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Desa Adat Banyuasri dan komunitas dalam menjaga kelestarian penyu di perairan Buleleng.

Menurut Sutjidra, pelepasan tukik di Pantai Camplung memiliki arti penting karena menjadi momentum perdana di kawasan tersebut. Terlebih kegiatan dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia menilai pelestarian penyu menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan hayati laut Buleleng. Penyu yang semakin sulit ditemukan di alam harus mendapatkan perlindungan secara berkelanjutan.

”Jadi inisiatif dari komunitas ini sangat kami dukung. Sehingga kedepannya pelestarian penyu di Buleleng terus berjalan,” ucap Sutjidra.

Pelepasan 100 tukik tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan konservasi yang lebih kuat di Pantai Camplung. 

Di satu sisi, penyu tetap mendapat ruang untuk kembali bertelur. Di sisi lain, pengembangan wisata bahari dapat berjalan tanpa mengorbankan habitat alami satwa laut tersebut. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
tukik Pantai Camplung buleleng konservasi penyu