Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tonjolkan Anatomi, Banjar Melanting Buat Ogoh-ogoh Sato Megaang

Francelino Junior • Minggu, 3 Maret 2024 - 00:20 WIB
Ogoh-ogoh Sato Megaang karya truna-truni Banjar Dinas Melanting, Kecamatan Banjar. Dalam ogoh-ogoh ini mereka menonjolkan bentuk anatomi.
Ogoh-ogoh Sato Megaang karya truna-truni Banjar Dinas Melanting, Kecamatan Banjar. Dalam ogoh-ogoh ini mereka menonjolkan bentuk anatomi.

SINGARAJA-Ogoh-ogoh berbeda ditampilkan pemuda-pemudi (teruna-teruni) di Banjar Dinas Melanting, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Mereka membuat ogoh-ogoh dengan tema Sato Megaang.

Sekilas, ogoh-ogoh ini tidak jauh beda dengan ogoh-ogoh yang dibuat Sekaa Truna (ST) Sentana Luhur, Banjar Kelodan, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar pada Nyepi 1945 di tahun 2023 lalu.

Salah satu pembuat ogoh-ogoh, Ida Bagus Kade Santun Pribadi mengatakan meski nyaris serupa tetapi ia bersama teruna-teruni Banjar Melanting juga tetap memberikan sentuhan ala mereka.

Ia juga tak menampik bila ogoh-ogoh ini memang terinspirasi dari ogoh-ogoh buatan ST Sentana Luhur.

“Ogoh-ogoh ini kami ambil dari sastra ajaran Hindu, juga melihat dari salah satu ST di Tampaksiring yang dibuat tahun lalu. Serupa tapi tak sama, kami tonjolkan anatomi berupa otot-ototnya. Di Singaraja jarang buat ogoh-ogoh dengan anatomi,” ujarnya ditemui pada Jumat (1/3) siang kemarin.

Pria yang akrab disapa Gusade itu menyebutkan bila mereka telah menghabiskan anggaran sebesar Rp 15 juta, untuk pengerjaan ogoh-ogoh Sato Megaang ini. Pengerjaan pun telah mereka lakukan sejak tanggal 23 Januari lalu hingga saat ini.

“Ogoh-ogoh dengan tinggi total 5 meter dan lebar 1,5 meter dengan berat sekitar 250 kilogram ini progresnya sudah 90 persen, tinggal pasang sanan dan tikar untuk penutup alas ogoh-ogoh,” lanjut pria berusia 24 tahun itu.

Disinggung mengenai bahan yang digunakan, teruna-teruni Banjar Melanting menegaskan mereka menggunakan bahan ramah lingkungan. Seperti bambu dan kayu, juga koran, tisu, dan kertas bekas untuk pembentukan anatomi.

Selama proses pengerjaan, disebutkan tidak menemui kendala berarti. Hanya saja mereka harus bekerja ekstra dalam membentuk anatomi kulit manusia. Bahkan gigi ogoh-ogoh dibuatnya dari tulang babi. Sedangkan untuk mata, mereka memanfaatkan bola lampu berwarna putih.

“Giginya kami buat dari tulang babi. Ada usul dari salah satu teman, kemudian kami kreasikan gunakan tulang babi. Tulang babinya diberi oleh teman,” ungkapnya.

Meskipun berhasil mengkreasikan ogoh-ogoh Sato Megaang, tetapi teruna-teruni Banjar Melanting mengeluhkan tidak bisa digunakannya balai banjar untuk pembuatan ogoh-ogoh.

Lantaran sudah tiga kali mereka meminjam rumah warga untuk menjadi pusat pembuatan ogoh-ogoh, karena balai banjar yang masih dalam proses perbaikan.

“Kalau kita sebagai generasi muda tidak bergerak, maka budaya dan tradisi Bali ini bisa hilang dan dilupakan,” pungkasnya. ***

Editor : Donny Tabelak
#nyepi #Tampaksiring #ogoh ogoh