Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ragam Tradisi Nyepi di Buleleng Bali: Megoak-Goakan, Muda Mudi Suka Cita Lestarikan Tradisi Peninggalan Panji Sakti

Eka Prasetya • Rabu, 13 Maret 2024 | 01:36 WIB

 

MEGOAK-GOAKAN: Tradisi megoak-goakan yang dilaksanakan di Lapangan Ki Barak Panji Sakti, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.
MEGOAK-GOAKAN: Tradisi megoak-goakan yang dilaksanakan di Lapangan Ki Barak Panji Sakti, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.

SUKASADA, RadarBuleleng.id - Tradisi yang berkaitan dengan hari raya Nyepi di Kabupaten Buleleng, Bali, sangat beragam.

Di Desa Adat Padangbulia Kecamatan Sukasada, ada tradisi meamuk-amukan alias perang api yang dilakukan saat hari pengerupukan atau sehari setelah Nyepi.

Kemudian di Kecamatan Banjar, ada tradisi nyakan diwang atau memasak di luar pekarangan rumah saat hari ngembak geni atau sehari setelah Nyepi.

Di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, ada tradisi megoak-goakan yang juga berlangsung saat ngembak geni.

Pada hari raya Nyepi tahun 2024, tradisi itu dilangsungkan pada Selasa (12/3/2024).

Tercatat ada 4 titik lokasi yang melaksanakan megoak-goakan dalam skala besar. Yakni di Lapangan Ki Barak Panji, Monumen Perjuangan Bhuana Kerta, Banjar Dinas Kembang Sari, dan Banjar Dinas Bangah.

“Kalau lokasi yang ramai di 4 titik itu. Tapi secara sporadis, di tiap banjar itu ada,” kata Perbekel Panji, Made Mangku Ariawan.

Seperti yang terlihat di Lapangan Ki Barak Panji. Muda-mudi sudah berkumpul di sekitar lapangan sejak pukul 15.00 sore.

Mereka menanti prosesi persembahyangan yang dilakukan di Pura Pajenengan Panji Sakti, yang berjarak sekitar 300 meter arah selatan lapangan.

Begitu persembahyangan usai dan air suci dibagikan, mereka langsung turun ke lapangan.

Para muda-mudi kemudian berbaris. Seorang yang ada di barisan depan akan berusaha melindungi barisannya. Kemudian seorang lagi akan bertugas menangkap ekor barisan.

Tradisi ini merupakan penggalan sejarah perjuangan Ki Barak Panji Sakti saat merebut Kerajaan Blambangan pada tahun 1600-an silam.

Ki Barak Panji Sakti adalah Raja Buleleng pertama. Dia meletakkan pondasi Kabupaten Buleleng saat ini. Diyakini dia kini telah moksa.

Kepala Desa Panji, Made Mangku Ariawan mengungkapkan, sebelum tradisi dilaksanakan maka penyelenggara permainan wajib meminta air suci atau nunas tirta di Pura Pajenengan. Baru kemudian tradisi itu dijalankan.

Menurutnya makna tradisi megoak-goakan adalah memuliakan Ki Barak Panji Sakti. Sekaligus meneladani nilai-nilai yang ditinggalkan Panji Sakti. Nilai itu adalah nilai kepemimpinan, persatuan, dan gotong royong.

“Ini juga wujud syukur atas berkah yang diberikan Hyang Widhi. Megoak-goakan juga simbol dharma melawan adharma, lambang kebaikan yang menang melawan keburukan,” ujarnya.

Ia berharap tradisi itu tetap lestari. Karena tradisi itu terbukti mempersatukan masyarakat. Terutama di Desa Panji.

Dengan meneladani nilai-nilai yang ditinggalkan Panji Sakti, maka semangat kerjasama dan gotong royong bisa terjaga.

“Nilai heroik, kepemimpinan beliau, itu banyak diteladani sehingga menjadi edukasi bagi masyarakat,” ujarnya. (*)

Editor : Eka Prasetya
#bali #megoak-goakan #panji sakti #tradisi #buleleng #panji