SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kabupaten Buleleng menjadi lokasi lahirnya kesenian gong kebyar di Bali.
Lahirnya kesenian gong kebyar di Bali Utara juga diikuti dengan lahirnya maestro-maestro karawitan di Gumi Denbukit.
Pada masa silam, ada dua nama seniman Bali Utara yang begitu tersohor. Mereka adalah Gde Manik, maestro karawitan asal Desa Jagaraga Kecamatan Sawan, serta Ketut Merdana, maestro karawitan asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu.
Selain kedua nama itu, sebenarnya ada seorang maestro lagi. Dia adalah Gede Mendra. Namun namanya tidak tercatat dalam sejarah karawitan Bali Utara.
Gede Mendra adalah seniman karawitan asal Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Buleleng.
Dia meninggal saat usia muda. Diduga akibat terkena racun. Sayangnya Mendra tidak meninggalkan keturunan.
Mendra merupakan sosok seniman yang tersohor pada era 1940-an. Pada masa itu, sosok Mendra disebut sebagai sosok pemain kendang yang sangat ahli.
Mendra merupakan seniman yang lahir pada tahun 1912 silam. Dia lahir dari keluarga miskin yang mengandalkan pendapatan dari berjualan tape.
Sejak kecil Mendra sudah dekat dengan gong. Dia memilih tidur di bale gong yang terletak di Pura Sapu Jagat, Banjar Paketan. Pura itu hanya sepelemparan batu dari tempat tinggalnya.
“Cerita nenek saya, dia lebih sering tidur di bale gong ketimbang tidur di rumahnya,” kata Putu Mahendra, 64, keponakan dari Gede Mendra.
Kebiasaan beraktivitas di sekitar gong, membuat Gede Mendra piawai memainkan gong kebyar. Dia kemudian memilih spesialisasi kendang.
Beranjak dewasa sulung dari 11 orang saudara itu bergabung dengan Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan. Sekaa Gong Eka Wakya tersohor hingga kini.
Mendra kemudian mengajak salah satu adiknya, Nyoman Aning, bergabung sebagai penari di Eka Wakya.
Seiring waktu, Mendra kemudian dipercaya sebagai pelatih di sekaa gong tersebut.
Kepiawaiannya melatih Gong Kebyar, membuat Mendra sempat tinggal di Lombok. Tepatnya di wilayah Cakranegara, Mataram.
Tatkala itu dia juga mengajak salah seorang adiknya, Ketut Gede, merantau ke Lombok.
Tuntas melatih gong kebyar, Mendra kemudian memilih pulang kampung ke Buleleng. Sementara adiknya menetap di Mataram.
“Sampai sekarang masih tinggal di sana keturunannya,” ucap Mahendra yang juga Penyarikan Desa Adat Buleleng itu.
Mahendra menuturkan, pada masa 1940-an, Sekaa Gong Eka Wakya kerap menghadiri pementasan gong kebyar mebarung.
Pesaing utamanya adalah Sekaa Gong Kebyar Desa Jagaraga. Di Desa Jagaraga, sosok yang sentral adalah Gde Manik.
“Bisa dibilang Gde Manik itu musuh bebuyutan dalam hal mekendang,” ceritanya.
Sekitar awal 1950-an, Mendra kemudian mengikuti semacam perlombaan mekendang. Dia berhasil menang dan mendapat penghargaan panggul emas.
Kemenangan itu membuat Mendra larut dalam perayaan. Dia diduga pesta minuman beralkohol bersama teman-temannya.
Dia kemudian pulang dalam kondisi lemas. Beberapa hari berselang, Mendra muntah darah lalu meninggal dunia. Ada desas-desus yang menyebutkan Mendra kena racun saat pesta tersebut.
“Saat meninggal posisinya belum punya keturunan. Sudah punya istri, tapi belum punya keturunan,” ceritanya.
Setelah Mendra meninggal, tidak ada catatan atau ingatan soal karya-karya mendiang. Bahkan hadiah panggul emas yang diraih, tidak ditemukan.
“Peninggalan beliau sudah tidak ditemukan lagi. Hanya ada cerita dari mulut ke mulut, turun temurun. Kami sudah cari ke Jagaraga sampai Lombok, tidak ada catatan. Hanya cerita,” ujarnya.
Salah seorang saksi mata yang menyaksikan kepiawaian Mendra bermain kendang adalah Made Wirtana, 82. Dia menyebut Mendra sebagai salah seorang legenda tabuh.
Pria yang mukim di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan itu sempat menyaksikan Mendra pentas di sebuah karang suwung atau lahan kosong yang terletak di sebelah selatan Pura Desa Buleleng.
Dia juga menonton penampilan Mendra saat tampil di alun-alun Buleleng. Alun-alun itu terletak di Pura Agung Jagatnatha saat ini.
“Waktu itu saya masih di sekolah rakyat. Usia saya sekitar 10 tahun. Beliau sudah menjadi pelatih gong di Banjar Paketan,” kata Wirtana.
Wirtana menggambarkan Mendra sebagai sosok pria yang gagah. Kulitnya putih. Perawakannya sedang, tidak terlalu gemuk.
Pada masa itu, Mendra biasa tampil berpasangan. Ia akan tampil bersama rekannya yang bernama Putu Kaler.
Menurutnya pada masa itu Sekaa Gong Eka Wakya bersaing sengit dengan Sekaa Gong Kebyar Jagaraga.
Apalagi kedua sekaa gong itu mebarung, maka penonton akan tumpah ruah. Terutama warga dari Banjar Paketan, pasti akan menyemut.
“Kalau dulu di timur itu ada Gde Manik, di barat ada Ketut Merdana, nah di tengah itu Gede Mendra,” ujar pria yang juga penerima Anugerah Wija Kusuma dari Pemkab Buleleng pada tahun 2015 silam.
Wirtana menyebut teknik mekendang yang dikuasai oleh Mendra sangat luar biasa. Hingga kini dia tidak pernah menyaksikan penabuh kendang yang memainkan teknik yang sama.
“Salah satu penampilan yang paling saya ingat itu dia pentas sambil nangal (menggigit) tali kendang. Pukulannya tetap prima. Itu luar biasa sekali,” kisahnya.
Lebih lanjut Wirtana menuturkan, hingga kini belum ada penabuh di Sekaa Gong Eka Wakya yang bisa menyamai atau minimal menyerupai teknik yang dimainkan oleh Mendra kala itu.
Sayangnya hingga kini tidak ada yang mengingat karya-karya dari Gede Mendra. Sebab pada masa itu, alat rekam merupakan barang yang sangat mewah. Tabuh dan tarian hanya direkam berdasarkan ingatan.
Wirtana meyakini Mendra punya karya. Entah itu di bidang tabuh maupun tari.
“Karena beliau ini istilahnya pelatih all round. Tabuh bisa, tari bisa. Jarang pelatih tabuh bisa langsung melatih tari,” ungkapnya.
Peninggalan sosok Gede Mendra yang dimiliki keluarga, hanyalah sebuah foto hitam putih.
Kini sosok Gede Mendra diabadikan dalam bentuk patung yang terpasang di Jalan Gunung Batur, Singaraja. Tepatnya di sisi timur Gedung DPRD Buleleng.
Mendra juga telah diakui sebagai seorang seniman karawitan. Pengakuan itu tertuang lewat Anugrah Seni Wija Kusuma yang diberikan oleh Pemkab Buleleng pada 21 Mei 2019 silam. (*)
Editor : Eka Prasetya