SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng, memiliki gong duwe yang disakralkan.
Gong duwe itu merupakan gong pusaka. Gong tersebut hanya diturunkan pada momentum tertentu.
Selama ini gong duwe itu disimpan di Pura Pengaruman Desa Adat Buleleng. Gong hanya diturunkan pada momentum tertentu.
Gong tersebut biasanya diturunkan dari lokasi penyimpanan saat upacara. Yakni saat tumpek krulut.
Selain itu gong tersebut hanya diturunkan saat Gong Kebyar Eka Wakya hendak melakukan pementasan.
Kelian Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya, Gede Arya Septiawan mengungkapkan, gong duwe itu terdiri atas beberapa perangkat.
Perangkat gamelan yang dimaksud adalah gong gantungan, reong, dan bungan gangsa. seluruhnya di-stanakan di Pura Pengaruman.
Arya mengaku tidak mengetahui pasti sejak kapan gong tersebut tersimpan di Pura Pengaruman. Dia juga tidak tahu siapa yang memberikan gong tersebut.
“Setahu kami, tahun 1906 itu ada pemugaran di Pura Pengaruman. Saat itu gong duwe ini sudah ada. Artinya kan sebelum itu sudah ada,” ungkapnya.
Menurutnya seluruh gong duwe itu di-stanakan di Pura Pengaruman karena terkait erat dengan taksu yang ada di pura tersebut.
Arya mengungkapkan, di pura tersebut berstana Ida Bhatara Dewa Ayu Mas Mangilo yang merupakan taksu pragina atau penari.
Selain itu di pura tersebut juga berstana Ida Bhatara Mas Kumarincing yang merupakan taksu bagi penabuh gamelan.
Sementara di pura yang berdekatan, yakni Pura Taman juga berstana taksu kesenian yakni Dewa Ayu Taman Rambut Jagat.
“Sesuhunan kami merupakan sesuhunan seni. Jadi kami tidak bisa mencampakkan saja Ida Bhatara yang ber-stana di sini,” katanya.
Menurut Arya gong duwe tersebut hampir pasti dibawa dalam setiap pementasan. Terutama pementasan yang sifatnya massal dan kolosal.
Pada tahun 2022 lalu, pihaknya sempat pentas pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Mereka ikut serta sebagai duta Kabupaten Buleleng dalam Gong Kebyar Dewasa.
Saat itu mereka memilih tidak membawa gong duwe. Lacur, saat perjalanan pulang dari PKB, salah satu mobil terlibat kecelakaan tunggal.
Meski tidak ada korban jiwa, mereka meyakini hal itu merupakan peringatan dari Sesuhunan, bahwa Sesuhunan harus tetap dilibatkan dalam berbagai pementasan.
“Karena kita di Bali yakin dengan skala dan niskala. Makanya kami sekarang setiap pentas, selalu nedunang gong duwe ini. Termasuk saat penutupan HUT Kota Singaraja itu,” katanya.
Sayang saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420, mereka urung tampil mebarung dengan Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga.
Lantaran telah nedunang gong duwe, Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Nyoman Wisandika akhirnya melakukan upacara guru piduka di Pura Pengaruman sebagai bentuk permohonan maaf. (*)
Editor : Eka Prasetya