RadarBuleleng.id - Tari Rejang Ayunan di Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Walaupun terletak di Kabupaten Tabanan, Desa Bantiran juga turut terpengaruh dengan kesenian-kesenian Buleleng, termasuk kesenian gong kebyar.
Pengaruh itu menjadikan Bantiran juga dikenal sebagai salah satu wilayah dauh enjung, selain Pupuan dan Pujungan. Karya-karya tari Ketut Merdana juga banyak dibawakan di wilayah tersebut.
Dari sekian banyak kesenian yang ada di Desa Bantiran, kesenian berupa Tari Rejang Ayunan merupakan kesenian yang cukup berpengaruh.
Rejang Ayunan merupakan tarian sakral yang ada di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Buleleng.
Tari tersebut dipentaskan untuk kepentingan upacara dewa yadnya di desa. Tahun ini, seni sakral itu diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Tari Rejang Ayunan adalah salah satu tradisi yang dilaksanakan di desa tersebut. Tarian itu hanya dipentaskan pada purnama kalima di Pura Puseh Bale Agung Desa Adat Bantiran.
Para remaja mengenakan pakaian berupa kain putih kuning serta pakaian yang menyerupai pakaian tari baris.
Selanjutnya mereka langsung berlari menuju tali yang tergantung pada pohon beringin di pura bale agung. Mereka berlomba-lomba mencapai puncak tali.
Tarian itu hanya dipentaskan oleh sekelompok pria, baik itu anak-anak hingga remaja. Mereka yang terlibat dalam tarian itu harus belum menikah.
Masyarakat meyakini kesenian itu wajib dipentaskan setiap tahunnya. Apabila tidak dipentaskan, maka bisa memicu gagal panen hingga wabah penyakit.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Tabanan, Ni Luh Putu Mahadi Santi Dewi mengatakan tahun ini pihaknya sengaja mengusulkan tari rejang ayunan sebagai WBTB.
Alasannya tarian tersebut sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Desa Bantiran, Pupuan.
"Selain itu tari rejang ayunan ini hanya akan ditarikan saat dilakukan Pujawali Ageng di Pura Puseh Lan Bale Agung Desa Adat Bantiran atau satu kali dalam setahun tepatnya di setiap Purnama Kalima," katanya,
Kesenian sakral itu pun masih bertahan hingga kini. Kalangan remaja masih menampilkan kesenian sakral tersebut setiap tahunnya.
Tidak kalah pentingnya tarian ini sudah berusia ratusan tahun dan selalu dilakukan oleh generasi masyarakat desa setempat. Terutama dari kalangan muda-mudi desa yang melaksanakan tarian rejang ayunan. "Sehingga proses pelestarian kesenian dan budaya setempat masih terjaga sampai saat ini," jelasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya