SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kabupaten Buleleng kaya akan tradisi. Kekayaan tradisi itu telah mendapat pengakuan luas.
Pengakuan terhadap kekayaan tradisi Buleleng, ditandai lewat terbitnya sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Pengakuan WBTB tersebut menunjukkan bahwa kesenian dan tradisi yang ada di Buleleng merupakan bagian dari kekayaan budaya nusantara yang berhasil diwariskan turun temurun.
Sejak tahun 2015 hingga tahun 2023, tercatat ada 14 kesenian maupun tradisi di Buleleng yang mendapat pengakuan WBTB dari Kemendikbud Ristek.
Bahkan salah satu kesenian di Buleleng mendapat pengakuan dunia dari UNESCO.
Berikut daftar 14 Warisan Budaya Tak Benda di Buleleng:
1. Wayang Wong
Dalam pertunjukan Wayang Wong Tejakula, para penari mengenakan kostum tradisional dan memainkan peran-peran dari cerita epik atau mitologi Hindu, yang diambil dari epos Ramayana.
Mereka menggunakan gerakan tari yang indah dan ekspresif untuk menggambarkan karakter-karakter dari cerita tersebut.
Musik gamelan mengiringi pertunjukan ini, sehingga memberikan suasana yang khas dan mendukung adegan-adegan dalam cerita.
Wayang wong tidak hanya sebuah pertunjukan hiburan semata, tetapi juga memiliki makna religius dan budaya yang dalam bagi masyarakat Bali.
Pertunjukan ini sering dipentaskan dalam rangkaian upacara adat, ritual keagamaan, atau festival budaya untuk menghormati dewa-dewa atau memperingati peristiwa penting dalam mitologi Hindu.
Kemendikbud mengakui kesenian ini diakui sebagai WBTB pada tahun 2015 lalu. Pada tahun yang sama, UNESCO juga memberikan pengakuan terhadap kesenian tersebut.
2. Tradisi Nyakan Diwang
Nyakan Diwang adalah sebuah tradisi unik yang berasal dari Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
Tradisi ini dikenal dengan ritual memasak nasi di luar rumah, tepatnya di pinggir jalan.
Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Nyepi Caka, khususnya pada saat Ngembak Gni.
Makna dan tujuan Nyakan Diwang adalah untuk pembersihan pekarangan rumah setelah melalui satu tahun caka. Nyakan Diwang diyakini sebagai cara untuk membersihkan rumah, terutama dapur, setelah Nyepi.
Makna lainnya adalah membangun Kekerabatan. Tradisi ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk saling bersosialisasi, mempererat tali persaudaraan, dan membangun rasa kekeluargaan antar warga.
Nyakan diwang juga bertujuan untuk menyucikan diri, karena asap dari api saat memasak nasi dapat menyucikan diri dari hal-hal negatif.
Selain itu nyakan diwang juga bermakna sebagai ucapan syukur atas limpahan rezeki dan kesehatan yang telah diberikan.
Nyakan Diwang biasanya dilaksanakan pada pagi buta saat ngembak gni setelah hari raya Nyepi.
Sejak pukul 03.00 pagi, masyarakat akan keluar rumah lalu memasak nasi menggunakan tungku tradisional di pinggir jalan depan rumah masing-masing. Sambil menunggu nasi matang, mereka biasanya bersantai, minum kopi hitam, dan bercengkrama dengan tetangga.
Menu yang dimasak biasanya sederhana, seperti nasi putih, sayur-sayuran, dan lauk pauk.
Tradisi tersebut menjadi momen penting bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan memperkuat rasa kebersamaan antar warga.
Nyakan Diwang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Kemendikbud pada tahun 2018 lalu.
3. Tari Teruna Jaya
Tari Teruna Jaya, adalah tarian daerah yang berasal dari Kabupaten Buleleng, Bali. Tarian ini diciptakan pada tahun 1915 oleh Pan Wandres dan kemudian disempurnakan oleh seniman legendaris Bali, I Gede Manik.
Tari Teruna Jaya termasuk tari putra keras, yang walaupun menggambarkan keperkasaan pemuda, justru ditarikan oleh penari wanita.
Tarian ini menggambarkan gerak-gerik seorang pemuda yang baru saja menginjak dewasa. Gerakannya energik, penuh emosi, dan lincah, serta menampilkan usaha untuk memikat hati seorang gadis.
Tari Teruna Jaya biasanya diiringi oleh gamelan gong kebyar yang dinamis dan rancak, sesuai dengan semangat tariannya.
Tari Teruna Jaya sering ditampilkan dalam acara-acara tertentu, seperti penyambutan tamu, pementasan seni, dan festival budaya.
Tari Teruna Jaya tidak hanya sekedar hiburan, tetapi juga mengandung makna tentang masa muda yang penuh semangat, kegembiraan, dan harapan.
Tari ini turut menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng dan Bali secara keseluruhan, bahkan sudah terkenal sampai ke mancanegara.
Tarian ini diakui sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2018 lalu.
4. Tenun Songket Beratan
Tenun Songket Beratan merupakan salah satu kain yang tersohor di Bali. Keunikannya juga membuat kain tersebut kerap dikoleksi.
Songket Beratan merupakan kain songket yang hanya ditemukan di Kelurahan Beratan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Tenun tersebut telah memikat hati para pecinta kain tradisional sejak lama.
Tenun Songket Beratan didominasi oleh motif klasik seperti wayang, bunga, dan geometri. Motif-motif ini dibuat dengan ukuran benang emas yang lebih kecil, menghasilkan detail yang renik, rapat, dan indah.
Kain tenun songket Beratan biasanya menggunakan warna cerah dan berani, seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Perpaduan warna ini menghasilkan tampilan yang hidup dan memukau.
Teknik menenun Songket Beratan menggunakan teknik songket ganda, yaitu menenun benang emas secara bersamaan dengan benang dasar. Hal ini menghasilkan kain tenun yang kuat, tebal, dan tahan lama.
Kain ini sering digunakan dalam upacara adat dan ritual keagamaan, serta menjadi pakaian tradisional bagi para bangsawan dan tokoh adat.
Membuat Tenun Songket Beratan membutuhkan keahlian dan ketelatenan yang tinggi. Proses pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Setiap helai benang emas ditenun dengan hati-hati, menghasilkan kain yang indah dan bernilai tinggi.
Teknik tenun Songket Beratan juga telah diakui sebagai warisan budaya tak benda. Kemendikbud Ristek mengakui tenun tersebut pada tahun 2018 lalu.
5. Pengalantaka
Pengalantaka adalah sebuah sistem penanggalan khusus yang digunakan oleh umat Hindu di Bali untuk menentukan hari baik, khususnya berkaitan dengan upacara keagamaan, pernikahan, pertanian, pembangunan, maritim, dan sebagainya.
Pengalantaka berfungsi untuk menentukan hari purnama (bulan penuh) dan tilem (bulan mati) dalam kalender Bali.
Fungsi pengalantaka juga untuk memprediksi kapan terjadinya peristiwa astronomis tertentu, seperti gerhana bulan dan matahari.
Pengalantaka didasarkan pada perhitungan yang melibatkan siklus bulan, matahari, dan planet lainnya.
Perhitungan ini cukup rumit dan biasanya dilakukan oleh para pemangku (pendeta) yang memiliki pengetahuan khusus tentang Pengalantaka.
Saat ini, Pengalantaka yang umum dipakai adalah versi "Pengalantaka Eka Sungsang Ka Paing" yang berlaku dari tahun 1979 sampai 2079.
Perhitungan Pengalantaka biasanya disajikan dalam bentuk diagram berbentuk lingkaran.
Diagram ini dapat ditemukan pada kalender Bali yang biasa digunakan oleh umat Hindu di Bali.
Pengalantaka diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud Ristek pada tahun 2019 lalu.
Keberadaan Pengalantaka menunjukkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam hal astronomi dan penanggalan.
6. Megoak-goakan
Tradisi megoak-goakan adalah tradisi yang ditemukan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahunnya, tepatnya sehari setelah hari raya Nyepi atau saat Ngembak Gni.
Tradisi Megoak-Goakan konon berawal dari kisah kepahlawanan I Gusti Anglurah Panji Sakti, pendiri Kerajaan Buleleng.
Panji Sakti dikisahkan pernah memimpin pasukannya untuk menyerang Blambangan (Jawa Timur) dengan menggunakan strategi unik.
Para pasukannya berpura-pura menjadi burung goak untuk mengintai musuh dan melancarkan serangan mendadak.
Tradisi ini kemudian dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada Panji Sakti dan untuk menumbuhkan semangat kepahlawanan, keberanian, dan kekompakan dalam diri masyarakat Desa Panji.
Tradisi Megoak-Goakan biasanya diawali dengan ritual di Pura Pajenengan Panji. Mereka kemudian akan mencari tanah lapang untuk memainkan tradisi tersebut.
Tradisi ini mengandung berbagai nilai luhur. Yakni semangat Kepahlawanan, kekompakan, serta pelestarian budaya.
Megoak-goakan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2020 lalu.
7. Seni Lukis Kaca Wayang Nagasepaha
Seni lukis wayang kaca Nagasepaha adalah sebuah tradisi seni lukis kaca yang berasal dari Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi ini telah ada selama puluhan tahun dan merupakan salah satu warisan budaya yang unik dan berharga dari Bali.
Keistimewaan Seni Lukis Wayang Kaca Nagasepaha terletak pada medianya. Wayang kaca Nagasepaha dilukis pada sebidang dari kaca bening.
Hal ini memberikan ciri khas tersendiri pada seni lukis ini, menghasilkan efek cahaya dan warna yang indah dan memukau.
Karakter yang dilukis yang dilukis pada wayang kaca Nagasepaha biasanya terinspirasi dari cerita-cerita wayang Ramayana, Mahabharata, dan kisah-kisah pewayangan lainnya.
Selain itu, terdapat pula motif-motif khas Bali seperti bunga, dewa-dewi, dan ornamen tradisional.
Melukis wayang kaca Nagasepaha terbilang rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi. Perajin harus melukis secara terbalik. Dia juga harus mencermati gambar yang dihasilkan.
Lukisan Wayang kaca Nagasepaha biasanya digunakan sebagai hiasan rumah, pura, dan tempat-tempat suci lainnya. Keindahan dan keunikannya mampu memberikan sentuhan estetika dan spiritual pada ruangan.
Wayang kaca Nagasepaha banyak diminati wisatawan sebagai cinderamata khas Bali. Keindahan dan keunikannya menjadikannya souvenir yang berharga dan berkesan.
Tradisi seni lukis wayang kaca Nagasepaha kini terancam punah karena minimnya regenerasi pengrajin muda.
Tradisi seni lukis ini diakui sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2020 lalu.
8. Ngusaba Bukakak
Ngusaba Bukakak adalah sebuah tradisi unik dan menarik yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh, Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi ini biasanya diadakan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Wariga, sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah dan ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri selaku dewi kesuburan.
Bukakak: Elemen utama dalam tradisi ini adalah sebuah wadah berbentuk seperti ayam jago yang terbuat dari janur.
Di dalam bukakak terdapat babi yang telah dipanggang setengah matang.
Sarana berupa bukakak tersebut kemudian diarak ke tempat yang dituju. Tempat yang dituju telah ditentukan secara mistis lewat sebuah upacara.
Makna dari tradisi ngusaba bukakak adalah rasa syukur atas limpahan hasil panen, menjaga keharmonisan dengan alam, memupuk gotong royong dan kerjasama antar warga desa, serta upaya pelestarian tradisi.
Tradisi Ngusaba Bukakak telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2020 lalu.
9. Tradisi Saba Malunin Desa Pedawa
Tradisi Saba Malunin merupakan tradisi sakral yang ada di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi ini dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, bertepatan dengan Purnama Kapat, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan memohon keselamatan serta kesejahteraan bagi desa.
Inti dari tradisi Saba Malunin adalah Upacara Banten Balun, yaitu persembahan sesaji yang terdiri dari berbagai hasil bumi, daging hewan, dan perlengkapan upacara lainnya.
Banten Balun ini dipersembahkan di Pura Desa Pedawa dan pura-pura keluarga.
Tujuan Tradisi Saba Malunin adalah memuliakan leluhur. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mendahului, di mana roh leluhur diyakini kembali ke desa pada saat Purnama Kapat.
Makna tradisi Saba Malunin adalah menjaga keharmonisan antara alam, manusia, dan para leluhur. Melalui tradisi ini, masyarakat Desa Pedawa memohon keseimbangan dan kelancaran dalam kehidupan mereka.
Tradisi Saba Malunin dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya, seperti tari-tarian tradisional dan tabuh gamelan.
Pada hari puncak, Upacara Banten Balun dilaksanakan di Pura Desa Pedawa dan pura-pura keluarga. Upacara ini dipimpin oleh pemangku dan diikuti oleh seluruh warga desa.
Setelah upacara selesai, berbagai pertunjukan seni dan budaya ditampilkan sebagai wujud rasa syukur bahwa upacara telah berjalan dengan lancar.
Tradisi Saba Malunin telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2021 lalu.
10. Megangsing Buleleng
Megangsing adalah sebuah permainan tradisional yang populer di Kabupaten Buleleng, Bali. Terutama di Desa Gobleg, Munduk, Gesing, Umejero, dan Pedawa.
Permainan ini dimainkan oleh berbagai lapisan usia. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Permainan ini menggunakan gasing (pusar) yang terbuat dari kayu.
Megangsing merupakan salah satu permainan tradisional Bali yang masih lestari hingga saat ini. Permainan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang penting.
Permainan ini melatih kecekatan dan ketelitian para pemain dalam memutar gasing mereka. Megangsing biasanya dimainkan secara bersama-sama, sehingga dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan persatuan antar para pemain.
Permainan ini menjadi media hiburan dan rekreasi yang murah dan mudah dimainkan bagi anak-anak dan remaja.
Megangsing telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2021.
11. Gambuh Bungkulan
Gambuh Bungkulan adalah sebuah kesenian tari tradisional yang berasal dari Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Kesenian ini merupakan salah satu warisan budaya yang unik dan berharga dari Bali, memadukan keindahan gerak tari, alunan musik yang memukau, dan nilai-nilai budaya yang luhur.
Hal yang membedakan Gambuh Bungkulan dengan Gambuh pada umumnya adalah penggunaan suling berukuran besar (suling gede) sebagai alat musik utama.
Suling gede menghasilkan suara yang khas dan powerful, memberikan nuansa yang berbeda pada pertunjukan.
Gambuh Bungkulan biasanya dibawakan oleh penari pria, berbeda dengan Gambuh klasik yang juga melibatkan penari wanita. Hal ini menambah keunikan dan daya tarik tersendiri bagi pertunjukan Gambuh Bungkulan.
Gambuh Bungkulan menampilkan berbagai cerita, seperti kisah Ramayana, Mahabharata, dan cerita rakyat Bali.
Cerita-cerita ini disampaikan melalui gerak tari, dialog, dan nyanyian yang indah.
Pertunjukan Gambuh Bungkulan seringkali mengandung pesan moral dan spiritual yang dapat memberikan pencerahan bagi para penonton.
Gambuh Bungkulan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2021 lalu.
12. Mejaran-jaranan
Mejaran-Jaranan adalah sebuah tradisi permainan rakyat yang berasal dari Desa Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi ini biasanya diadakan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Wariga, sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah dan ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri selaku dewi kesuburan.
Inti dari tradisi Mejaran-Jaranan adalah permainan kuda-kudaan yang dilakukan oleh dua kelompok anak laki-laki. Setiap kelompok terdiri dari 6-10 orang, di mana satu orang berperan sebagai joki dan dua orang mengangkat joki.
Kuda dalam tradisi ini melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat pantang menyerah. Permainan ini diharapkan dapat menumbuhkan sifat-sifat tersebut pada anak-anak yang memainkannya.
Permainan ini ditandai dengan dua kelompok anak laki-laki saling beradu kekuatan dalam permainan kuda-kudaan. Kelompok yang jokinya terjatuh terlebih dahulu dinyatakan kalah.
Tradisi Mejaran-Jaranan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2022 silam.
13. Mengarak Sokok
Mengarak Sokok adalah tradisi unik yang berasal dari Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan sekaligus sebagai doa untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Sokok merupakan pohon telur yang dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik seperti janur, bunga, kertas warna-warni, dan buah.
Sokok akan diarak keliling desa dengan diiringi sholawat nabi, pukulan rebana, dan semangat warga desa.
Setelah diarak keliling desa, sokok akan dibawa kembali ke masjid. Di sana, telur dan makanan yang menghiasi sokok akan dibagikan kepada seluruh masyarakat desa. Pembagian ini melambangkan berkah dan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Masyarakat Desa Pegayaman percaya bahwa telur dalam jumlah banyak pada sokok melambangkan kelahiran dan sebagai cara untuk memahami kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Tradisi mengarak sokok juga menjadi wujud rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Mengarak Sokok telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2023.
14. Tradisi Sampi Gerumbungan
Sampi Gerumbungan merupakan tradisi unik yang berasal dari Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.
Tradisi tersebut biasanya diadakan setiap tahun setelah panen padi, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga, sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan doa untuk keselamatan serta kesuburan tanah di masa depan.
Inti dari tradisi Sampi Gerumbungan adalah perlombaan sapi hias yang dihiasi dengan berbagai ornamen tradisional yang indah. Setiap desa akan menampilkan sapi terbaik mereka untuk diadu dalam perlombaan ini.
Tradisi ini diyakini sebagai simbol kesuburan tanah. Sampi Gerumbungan juga menjadi momen untuk merayakan hasil panen dan mengungkapkan rasa syukur atas berkah yang diterima.
Tradisi Sampi Gerumbungan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 2023. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya