Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mengenal Kesenian Genggong di Buleleng. Kesenian Langka yang Terancam Punah

Eka Prasetya • Jumat, 30 Agustus 2024 - 01:00 WIB

 

KESENIAN LANGKA: Seni genggong dari Desa Selat, Buleleng, saat ditampilkan pada acara Buleleng Development Festival.
KESENIAN LANGKA: Seni genggong dari Desa Selat, Buleleng, saat ditampilkan pada acara Buleleng Development Festival.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kabupaten Buleleng menyimpan berbagai potensi kesenian. Beberapa diantaranya merupakan kesenian yang mulai langka.

Salah satunya adalah kesenian genggong. Genggong adalah alat musik tunggal yang dimainkan menggunakan mulut.

Genggong menjadi alat hiburan bagi masyarakat Bali pada jaman dahulu. Hanya perlu beberapa orang untuk memainkan alat musik itu.

Baca Juga: Bulan Bahasa Bali: Siswa SLB Negeri 2 Buleleng Unjuk Kebolehan Lewat Kesenian

Guna menambah kesan estetik dalam seni karawitan, genggong juga bisa dipadukan dengan perangkat gamelan Bali. Seperti kecek, kenuk, kendang, suling, rindik, kempul. 

Salah satu sekaa genggong yang masih aktif di Bali adalah Sekaa Genggong Dharma Jati Desa Selat, Kecamatan Sukasada. Sekaa ini juga menjadi satu-satunya sekaa genggong yang ada di Buleleng.

Kesenian ini pun cukup langka. Karena yang memainkan genggong kini sangat terbatas. Rata-rata usianya sudah melewati 50 tahun.

Kelian Sekaa Genggong Dharma Jati, Ketut Yana mengatakan, sekaa itu sudah berdiri sejak tahun 1980-an.

Sekaa itu didirikan oleh salah seorang penglingsir yang bernama Wayan Semita. Hingga kini Semita masih aktif di sekaa tersebut.

Baca Juga: Karena Tertarik, Mahasiswi Norwegia Belajar Kesenian Burdah ke Desa Pegayaman Buleleng

Sejak berdiri, sekaa genggong kerap tampil di berbagai pagelaran. Seperti panggung hiburan rakyat, menghibur wisatawan di hotel maupun pada Pesta Kesenian Bali

“Setahu saya kami satu-satunya di  Buleleng. Kalau di luar Buleleng ada di Gianyar, di Karangasem ada juga. Itu yang saya tahu,” katanya.

Lebih lanjut Ketut Yana mengatakan, sekaa genggong hingga kini masih aktif di Desa Selat. Sekaa terbiasa terlibat dalam acara Dewa Yadnya dan Manusia Yadnya seperti tiga bulanan.

Hingga kini sekaa juga masih tetap eksis karena bantuan dari tokoh, desa adat, maupun desa dinas. Sehingga sekaa bisa membeli perangkat gamelan rindik dan melakukan pemeliharaan berkala.

”Dukungan ini sangat berarti sekali untuk kami, dulu pernah mandeg, namun karena dukungan tersebut akhirnya bisa bergeliat lagi,”ujarnya.

Kini tantangan terbesar bagi sekaa tersebut adalah melakukan pelestarian dan regenerasi kesenian tersebut. Sebab generasi muda yang mau menggeluti kesenian itu sangat terbatas. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#genggong #langka #seni #buleleng