RadarBuleleng.id - Masyarakat adat alias krama adat di Bali, tepatnya di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung, menggelar upacara mecaru mejaga-jaga.
Upacara pecaruan itu biasanya diselenggarakan setiap rahina tilem sasih karo setiap tahunnya.
Tradisi mejaga-jaga adalah tradisi untuk melakukan ruwatan atau membersihkan alam, sekaligus menetralisir alam dari pengaruh negatif.
Saat upacara tersebut diselenggarakan, umat akan mengorbankan seekor sapi. Sapi itu menjadi sarana membersihkan desa secara niskala.
Jro Mangku Kubayan Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Nyoman Sumana mengungkapkan, pelaksanaan tradisi mejaga-jaga pada tahun 2024 atau 1946 caka ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Lazimnya upacara dilaksanakan setiap rahina tilem sasih karo. Tapi tahun ini, upacara dimajukan sehari.
Alasannya, tilem sasih karo pada tahun ini jatuh pada hari dengan triwara pasah. Krama meyakini pasah merupakan hari yang tepat untuk melaksanakan upacara yadnya.
“Karena bertepatan dengan pasah, jadi ritual ini kami majukan. Ini tidak mengurangi makna dari ritual ini,” jelas Nyoman Sumana saat ditemui pada Senin (2/9/2024).
Upacara mejaga-jaga telah dimulai sejak pukul 07.00 pagi yang dipusatkan di Catus Pata desa setempat.
Seekor sapi cula atau jantan diarak oleh pemuda desa. Sapi itu didapat secara khusus dari Kabupaten Buleleng.
Sapi kemudian diarak ke arah utara sampai di ujung utara desa, tepatnya di depan Pura Puseh desa setempat.
Di sana, digelar prosesi upacara. Selanjutnya sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pemangku Catus Pata menggunakan blakas Sudamala yang disakralkan. Dampaknya darah sapi berceceran.
Selanjutnya sapi kembali diarak warga menuju arah selatan, tepatnya hingga di depan Pura Dalem. Kali ini sapi ditebas pada pantat bagian kiri.
Selanjutnya sapi diarak kembali ke Catus Pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebelah kanan.
Terakhir sapi kembali diarak ke arah barat sampai di depan Pura Prajapti. “Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke Catus Pata untuk upacara selanjutnya,” jelas Sumana.
Ceceran darah sapi di sepanjang jalan desa diyakini sebagai sarana kurban untuk membersihkan desa secara skala maupun niskala.
Bahkan krama meyakini bahwa darah itu bisa mengobati penyakit. Sehingga ada krama yang mengoleskan darah sapi ke tubuh hingga wajah.
Lebih lanjut Sumana mengatakan, sapi yang digunakan dalam ritual bukan sapi sembarangan. Sapi tidak boleh cacat, kuku kaki sapi tidak boleh berwarna merah, lidah tidak boleh berwarna hitam-putih atau poleng, serta ekor tidak boleh ada warna putihnya atau panjut.
”Sapi hanya bisa dipilih oleh keturunan Pemangku Prajapati, Pemangku Catus Pata, serta Pamong Dalem,” katanya.
Untuk mencari sapi tersebut, krama harus mencarinya ke penjuru daerah. Bahkan hingga keluar Klungkung. Tahun ini, sapi dibeli dari peternak di Buleleng.
Upacara itu sebenarnya dulu pernah tidak dilaksanakan. Alasannya saat itu warga sibuk melaksanakan upacara ngaben.
Ternyata, terjadi gerubug yang menyebabkan beberapa warga desa meninggal pada waktu berdekatan. Petani juga mengalami gagal panen.
”Sampai sekarang kami tidak berani lagi. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, kami meyakini akan terjadi malapetaka,” ujarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya