RadarBuleleng.id - Menyimpan berbagai kesenian. Salah satunya kesenian Topeng Bondres. Berbagai sekaa bondres juga lahir di Buleleng.
Salah satu sekaa yang masih eksis hingga kini adalah Sekaa Bondres Sunari Bajra. Sekaa yang berbasis di Kelurahan Kendran itu tetap bertahan dengan membawakan cerita, serta kritik sosial yang diselipkan dengan humor.
Sekaa Bondres Sunari Bajra berdiri pada tahun 2004 silam. Eksistensi sekaa ini bermula dari duet pasangan Wayan Sujana dan Ketut Suarna Dwipa.
Mereka semula bergabung dengan Sanggar Seni Shanti Budaya, kemudian berkembang menjadi Sanggar Seni Sunari Bajra. Sanggar ini bergerak di bidang pelestarian seni tradisional, baik itu seni tabuh dan seni pertunjukan.
Awalnya, mereka hanya menerima permintaan untuk mengisi acara keagamaan (yadnya) dan acara pemerintah. Sehingga mereka membentuk Sekaa Bondres dengan melibatkan anggota dari luar sanggar.
Seiring waktu, Sujana yang juga pensiunan ASN itu merekrut anak-anak didiknya untuk memperkuat kelompok ini. Termasuk melibatkan Ngurah Indra Wijaya, Kadek Sukantara Arpin, Made Artana alias Selamat, dan Kadek Agus Ria Arnawan alias Dedek. Belakangan keempatnya mandiri menjadi Bondres Rare Kual.
Setelah Rare Kual mandiri, Sujana kembali merekrut seniman baru, seperti Ketut Wartadana dan Gede Agus Sumardita, untuk mengisi kekosongan. Mereka kemudian mendirikan divisi khusus untuk pementasan topeng. Yakni Sekaa Topeng Sunari Bajra. Anggota baru terus bertambah, termasuk Ketut Marma, Gede Arya Dharma, dan Kadek Adis.
Belakangan, Gede Arya Dharma keluar untuk melanjutkan sanggar peninggalan keluarga. Pada tahun 2023, Ketut Suartana bergabung sebagai anggota baru. Hingga kini, formasi utama Topeng Bondres Sunari Bajra terdiri dari Wayan Sujana, Ketut Suarna Dwipa, Ketut Wartadana, Ketut Suartana, dan Gede Agus Sumardita. Sementara Ketut Marma dan Kadek Adis berhalangan aktif.
Kini ada lima karakter utama di sekaa tersebut. Yakni Nang Lecir yang diperankan oleh Wayan Sujana. Dia bermain peran sebagai tokoh penasar. Dia membawakan topeng berwibawa dengan kumis yang tebal. Nang Lecir digambarkan sebagai sosok yang disegani dan mempunyai peran memberikan tuntunan dan menyisipkan sastra agama.
Ada juga sosok Totok yang diperankan Ketut Suarna Dwipa. Sosok Totok digambarkan dengan bentuk topeng yang memiliki bibir sumbing berwarna merah. Topeng ini mengambil peran sebagai orang disabilitas, yang memanfaatkan disabilitasnya untuk keuntungan pribadi.
Selanjutnya sosok Tut Talenan yang diperankan Ketut Suartana. Sosok ini digambarkan topeng yang memiliki bibih bujuh atau bibir monyong. Topeng ini bermain sebagai sosok yang selalu mengeluh tentang hidup tetapi tetap mampu menemukan solusinya.
Kemudian ada topeng Tut Ajus yang dimainkan oleh Ketut Wartadana alias Tut Warta. Topeng ini berwarna hitam, gigi yang tidak beraturan dan memiliki benjolan di dahinya. Topeng ini memiliki peran sebagai generasi muda yang sok tau, ingin menang sendiri dan merasa paling pintar pada kenyataannya tidak memahami apapun.
Terakhir adalah topeng Kolok yang diperankan Gede Agus Sumardita alias De Kipli. Dia bermain peran sebagai seorang tuna rungu yang memiliki keinginan layaknya orang normal. Meski terbatas, bertekad melestarikan seni budaya Bali namun terkadang berlebihan tanpa menyesuaikan kemampuannya.
Salah seorang pemain Topeng Bondres Sunari Bajra, De Kipli mengungkapkan, sejak berdiri sekaa tersebut sudah eksis dalam berbagai kegiatan. Seperti penyuluhan HIV-AIDS di Buleleng, penyuluhan hukum, informasi pembangunan, hingga penyuluhan sosial yang berdampak luas.
Mereka juga turut serta dalam perayaan-perayaan penting seperti Hari Ulang Tahun Kota Singaraja maupun Pesta Kesenian Bali (PKB).
Bukan hanya pentas di Bali, sekaa tersebut juga sempat tampil menghibur umat Hindu yang ada di Surabaya dan Tangerang.
“Seni tradisional seperti bondres itu bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga alat untuk mendidik, menyampaikan pesan, dan memperkuat budaya lokal,” ujar Kipli.
Kipli mengatakan, selama ini masyarakat menganggap bahwa topeng bondres hanya sekadar seni hiburan. Namun lebih jauh dari itu, bondres juga menjadi sarana edukasi dan refleksi sosial yang mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.
“Pesan-pesan penting itu kami selipkan lewat humor. Karena kalau terlalu serius juga nanti dikira jadi pembicara seminar,” ujar Kipli seraya berkelakar.
Baca Juga: Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Punya Gong Duwe. Begini Sejarahnya
Seiring berkembangnya teknologi, sekaa ini juga mulai melakukan penyesuaian. Bagi mereka, teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Ada kelebihan maupun tantangan yang mereka hadapi.
Bagi Sekaa Bondres Sunari Bajra, teknologi menjadi salah satu jalan untuk menarik minat generasi muda mempertahankan kesenian tradisional. Khususnya topeng bondres.
Mereka juga memanfaatkan teknologi perekaman video dan media sosial untuk menjangkau penonton yang lebih luas.
“Kadang kami juga live di medsos. Jadi bisa ditonton oleh masyarakat luas,” ungkap anggota Sekaa Sunari Bajra, Tut Warta.
Meski begitu, mereka juga mengakui ada tantangan sebagai dampak digitalisasi. Humor-humor yang mereka bawakan dalam pementasan, kerap kali viral.
Dampaknya setelah viral, humor-humor itu justru kehilangan kelucuan jika dibawakan lagi di atas panggung. Mereka pun didorong lebih kreatif lagi membawakan banyolan yang selalu segar.
Triknya, materi banyolan disesuaikan dengan situasi penonton. “Ini menjadikan pementasan itu unik dan sulit ditebak. Meskipun sudah pernah viral, ceritanya mirip, tapi banyolan itu kami sesuaikan lagi,” imbuh Warta.
Mereka juga terus berusaha melakukan eksplorasi karakter tiap topeng. Contohnya karakter topeng Kolok. Topeng ini punya segmentasi penonton tersendiri, karena ekspresi dan karakternya yang kuat.
Saat tampil di panggung, mereka juga melibatkan penonton secara langsung . Interaksi langsung dengan penonton membuat para pemain melemparkan humor secara spontan yang disesuaikan dengan situasi pentas.
“Ini menciptakan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di video online,” katanya lagi.
Mereka juga berusaha merekam isu-isu kekinian. Isu tersebut dieksplorasi sedemikian rupa, kemudian diolah menjadi sebuah lakon pertunjukan. Sehingga pementasan tidak terkesan garing karena membawakan materi yang itu-itu saja.
Dengan strategi tersebut, Sekaa Bondres Sunari Bajra yakin mereka tetap bertahan dengan persaingan konten digital. Sekaligus menarik generasi muda untuk mencintai seni tradisional Bali. (kontributor: Made Agus Mahendra)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya