SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Mahasiswa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menuangkan kegelisahannya terhadap fenomena teknologi dan digitalisasi.
Kritik terhadap disrupsi digital dan modernisasi yang terlalu pesat, ia tuangkan dalam serial karya lukisan.
Lukisan-lukisan itu dipamerkan dalam pameran bertajuk “Peta Tanpa Arah” yang digelar oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa di Galeri Paduraksa Undiksha.
Kritik terhadap teknologi yang kebablasan dihadirkan dalam karya lukisan yang dibuat oleh Ida Bagus Made Dwipayana.
Dwipa mengatakan, karyanya merespon tentang dua sisi teknologi terhadap budaya Bali. Budaya Bali yang dulunya dikenal sakral kini malah seperti menyewakan budaya atau tradisinya.
Baca Juga: Tutup Tahun, Mahasiswa Undiksha Gelar Pameran Seni Rupa
Kritik itu ia hadirkan dalam karyanya yang berjudul Hanuman Last Dance. “Hal yang tadinya benar-benar sakral kini malah dipertunjukan kepada turis sebagai komoditas pariwisata. Tradisi itu diperdagangkan atau tukar menukar dengan teknologi,” kata Dwipa.
Dwipa juga sengaja menghadirkan karya orang-orang yang hanya fokus dengan smartphone-nya.
Mereka tidak memperhatikan pertunjukan tersebut dengan sungguh-sungguh karena sudah terbiasa dan mulai bosan dengan jalan cerita dalam pertunjukan tersebut.
Melalui goresan drawing pen ia membuat penekanan garis putus-putus seakan tidak terhubung, jadi secara tidak langsung menghasilkan efek visual yang samar serta tidak begitu realis. Hal itu ia lakukan untuk memberikan kesan kebudayaan yang mulai pudar dan dilupakan.
Baca Juga: Mahasiswa Undiksha Gelar Pameran Seni Rupa. Tampilkan Kritik Sosial Lewat Media Seni
Teknik serupa juga diterapkan pada karya berikutnya yang berjudul Then And Now. Karya itu menghadirkan kritik terhadap pemanfaatan HP yang kebablasan.
Ia menyebut, dulunya sebelum ada smartphone setiap orang bisa beraktivitas bebas, tanpa rasa khawatir.
Lebih lanjut Dwipa menjelaskan, kini smartphone menjadi candu. Orang menjadi gelisah saat tidak bisa membuka smartphone. Baginya, smartphone juga menjadi belenggu.
“Seperti contohnya saat perayaan suci nyepi, saya melihat ada anak-anak yang tidak melaksanakan catur brata. Tapi justru nekat keluar rumah mencari sinyal,” jelasnya.
Karya-karya Dwipa saat ini masih bisa dinikmati di Galeri Paduraksa Undiksha. Pameran akan berlangsung hingga Kamis (16/1/2025) mendatang. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya