Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belajar Sejarah di Monumen Perang Jagaraga

Francelino Junior • Senin, 10 Februari 2025 | 01:21 WIB

 

JEJAK SEJARAH: Suasana di Monumen Perang Jagaraga, yang terletak di Jalan Raya Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng.
JEJAK SEJARAH: Suasana di Monumen Perang Jagaraga, yang terletak di Jalan Raya Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Monumen Perang Jagaraga yang ada Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, menjadi tonggak pengingat peperangan merebut kemerdekaan.

Monumen itu terletak di tepi Jalan Raya Desa Jagaraga. Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Singaraja. 

Monumen tersebut cocok untuk refreshing sekaligus belajar sejarah. Apalagi lokasinya yang cukup jauh dari hiruk pikuk lalu lintas antar provinsi dan kabupaten.

Monumen tersebut dikelola Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Buleleng. Tempat ini dibangun di tahun 2016 dan rampung pada 2017.

Tampak dari luar, Monumen Perang Jagaraga ini dikelilingi tembok tinggi berwarna merah pastel. 

Tempat parkirnya pun tidak buruk, dapat menampung sepeda motor, mobil, hingga bus. 

Monumen dengan luas 55,5 are ini di dalamnya tampak asri. Selain dengan taman, ada juga kolam yang menambah kesejukan mata memandang. 

Sejak masuk ke dalam, pengunjung sudah dimanjakan matanya dengan suasana hijau. 

Tampak di bagian kiri dan kanan areal, ada wantilan yang dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan lembaga maupun perorangan.

Selangkah lebih dalam, terutama menuju ke arah tugu yang berdiri patung dua tokoh Puputan Jagaraga, yakni I Gusti Ketut Jelantik dan Jero Jempiring. 

Gusti Jelantik dan Jero Jempiring memiliki peranan penting dalam perang tersebut ketika melawan Belanda pada tahun 1849. Patung keduanya menjulang setinggi 15 meter, dengan menghadap ke arah utara.

Sedangkan di bawah tugu, terdapat ruangan yang menggambarkan diorama Puputan Jagaraga. Juga sejumlah patung laskar atau prajurit yang menghidupkan suasana. 

Secara singkat, Monumen Perang Jagaraga berdiri sebagai bentuk penghormatan dan mengenang peristiwa Puputan Jagaraga yang disebut juga Perang Bali II. Perang ini terjadi pada tahun 1848 hingga 1849.

Perang ini dilakukan oleh Patih Kerajaan Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik bersama rakyat Buleleng, untuk mengusir pemerintah kolonial Belanda. 

Sebab saat itu, Belanda ingin menghapus hak tawan karang yang berlaku di pantai Bali utara. Aturan itu berlaku di bawah Kerajaan Buleleng.

Tatkala Perang Buleleng berakhir, Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem bersama patih dan pasukannya memindahkan Kerajaan Buleleng ke Desa Jagaraga. 

Pertimbangannya soal medan pertempuran. Lokasi itu sulit dijangkau prajurit musuh. Sebab akses keluar masuk hanya melalui satu titik saja.

Alkisah, Puputan Jagaraga dimulai pada 8 Juni 1948, saat Belanda menyerang Pelabuhan Sangsit dengan 22 kapal laut bermeriam. Kemudian dibalas oleh pasukan I Gusti Ketut Jelantik yang menewaskan 250 orang pasukan Belanda. 

Perang berlanjut pada 15 April 1849 dengan kekuatan pasukan 15.235 orang dan 29 kapal laut. 

Ditambah lagi dengan mata-mata yang berhasil mengetahui celah menuju Benteng Jagaraga, membuat tempat tersebut jatuh ke tangan Belanda pada 19 April 1849.

”Monumen Perang Jagaraga dapat menambah edukasi terkait sejarah Buleleng dan Bali. Selain sebagai tempat untuk refreshing,” kata Kepala Dinas Sosial Buleleng, I Putu Kariaman Putra. 

Untuk berkunjung ke monumen tersebut, tidak dikenakan biaya alias gratis. Pemerintah hanya memberlakukan tarif bagi sejumlah kegiatan khusus.

Seperti aktivitas komersial senilai Rp 300 ribu per hari, kegiatan sosial senilai Rp 200 ribu per hari, dan aktivitas fotografi senilai Rp 300 ribu per hari. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Jagaraga #buleleng #monumen