Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ulah Pati dalam Pandangan Hindu: Bukan Jalan Keluar, Justru Tambah Derita

Eka Prasetya • Minggu, 6 April 2025 - 18:44 WIB

 

BERI PEMAHAMAN: Penyuluh agama Hindu dari Kantor Agama Buleleng, Kadek Satria. Dia memberikan penjelasan terkait ulah pati dari perspektif Hindu.
BERI PEMAHAMAN: Penyuluh agama Hindu dari Kantor Agama Buleleng, Kadek Satria. Dia memberikan penjelasan terkait ulah pati dari perspektif Hindu.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ajaran Hindu secara tegas menolak tindakan ulah pati atau bunuh diri. Dalam keyakinan Hindu, atma atau roh manusia dianggap kekal dan abadi. 

Oleh karena itu, kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju penyucian diri.

“Kematian adalah proses alami dalam siklus kehidupan. Dunia ini merupakan tempat manusia menyucikan atma melalui perbuatan baik (subha karma), sekaligus menjauhi perbuatan buruk (asubha karma),” ujar Kadek Satria, Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Agama Kabupaten Buleleng.

Hal itu diungkapkan Kadek Satria, menyikapi maraknya peristiwa ulah pati yang terjadi di Bali, sepanjang tahun ini.

Kadek menjelaskan, dalam kitab Bhagavad-Gita dijelaskan bahwa ada dua jalur yang akan ditempuh atma setelah meninggal dunia. 

Jalur pertama ialah Uttarayana atau jalur terang bagi mereka yang menjalani hidup dengan kebajikan. 

Jalur kedua adalah Daksinayana atau jalur kegelapan untuk jiwa yang masih terikat pada duniawi dan karma buruk.

Sedangkan dalam kitab Parasara Dharmasastra, jelas disebutkan bahwa roh orang yang mengakhiri hidupnya secara ulah pati akan terperangkap dalam alam kegelapan selama 60.000 tahun. 

Sementara menurut Lontar Yama Purwa Tattwa Atma mencatat bahwa jenazah korban ulah pati harus dikubur terlebih dahulu dan baru bisa diaben setelah lima tahun kemudian.

Ulah pati bukan solusi. Justru, itu akan memperpanjang penderitaan, bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar,” tegasnya.

Kadek berharap masyarakat bisa memahami dampak besar tindakan ulah pati dari sudut pandang ajaran Hindu. 

Ia juga mengajak setiap individu untuk memilih cara yang lebih bijak dan positif dalam menghadapi tekanan hidup.

Apabila ada masalah, masyarakat dapat menyampaikan masalah mereka kepada orang terdekat atau keluarga terdekat. Sehingga bisa mendapat solusi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #hindu #agama #atma #bunuh diri #kitab #ulah pati #roh #manusia #penyuluh #buleleng