Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hangatnya Tradisi Lebaran Ketupat di Kampung Jawa Buleleng: Megibung dan Kue Bantal Jadi Simbol Syukur Usai Puasa Syawal

Eka Prasetya • Selasa, 8 April 2025 | 16:10 WIB

 

MAKAN BERSAMA: Suasana megibung saat lebaran ketupat yang dilakukan oleh jamaah Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja.
MAKAN BERSAMA: Suasana megibung saat lebaran ketupat yang dilakukan oleh jamaah Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Masjid Nurrahman, Kelurahan Kampung Singaraja, Buleleng, Senin pagi (7/4/2025). 

Puluhan jamaah tampak berkumpul sejak pukul 06.30 Wita, membawa aneka hidangan khas yang disusun rapi dalam nampan besar.

Ada ketupat, sayur lodeh, opor ayam, urap, telur, hingga kue bantal – semua dibawa sebagai sedekah untuk merayakan lebaran ketupat.

Mereka kemudian melakukan megibung, tradisi makan bersama yang secara turun-temurun diwariskan oleh warga di komunitas Kampung Jawa. Tradisi itu masih lestari hingga kini.

Dalam tradisi megibung ini, jamaah bersama dalam satu lingkaran. Satu nampan disantap bersama oleh 4–5 orang. 

Tidak ada sekat usia. Anak-anak hingga orang tua duduk sejajar, melingkar dalam semangat kekeluargaan.

Acara diawali dengan pembacaan doa, sholawat, dan tausiyah singkat dari tokoh agama setempat. Baru kemudian para jamaah menyantap hidangan dalam suasana akrab.

Menurut tokoh masyarakat Kampung Jawa, Agus Murjani, tradisi megibung saat lebaran ketupat telah diwariskan oleh para leluhur mereka yang berasal dari Pulau Jawa sejak masa kolonial. 

“Tujuannya untuk bersyukur karena telah menyelesaikan puasa Ramadan dan puasa Syawal,” ungkapnya.

Bukan sekadar perayaan, lebaran ketupat juga menjadi ajang silaturahmi—terutama bagi warga perantauan yang pulang kampung. 

Usai acara, biasanya mereka sekaligus berpamitan sebelum kembali ke tanah rantau.

Yang menarik, lebaran ketupat punya hidangan khas yang tak ditemukan di perayaan lainnya: kue bantal. 

“Kalau Idul Fitri biasanya ayam bakar. Tapi kalau lebaran ketupat, kue bantal ini wajib ada,” tutur Agus.

Sementara itu, Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurrahman, H. Agus Annurachman menegaskan, tradisi lebaran ketupat dan megibung merupakan warisan leluhur yang tetap sejalan dengan syariat Islam. 

“Leluhur kami dulu ditempatkan di sini oleh pemerintah kolonial, dan membawa budaya lebaran ketupat dari Jawa. Ini bagian dari identitas kami sebagai warga Kampung Jawa,” jelasnya.

Ia juga menerangkan, sebelum lebaran ketupat digelar, jamaah biasanya melaksanakan puasa sunnah Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri. 

Tahun ini puasa dimulai Selasa (1/4/2025) hingga Minggu (6/4/2025). Barulah pada Senin (7/4/2025), lebaran ketupat digelar sebagai penutup rangkaian ibadah.

“Sesuai sabda Rasulullah, siapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan, seperti berpuasa setahun penuh. Maka kami rayakan dengan tradisi ini agar anak-anak kami nanti juga ikut melestarikannya,” pungkasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ramadan #ketupat #kampung jawa #megibung #Lebaran Ketupat #jamaah #idul fitri #tradisi #syawal #Kampung Singaraja #buleleng #jawa #opor ayam