Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Toleransi di Bali: Hari Raya Galungan, Umat Hindu Berbagi Makanan dengan Umat Kristiani

Juliadi Radar Bali • Rabu, 23 April 2025 | 19:01 WIB

 

NGEJOT: Umat Hindu di Banjar Adat Piling, Bali, memberikan bingkisan kepada umat kristiani di banjar tersebut. Wujud toleransi umat Hindu saat Galungan.
NGEJOT: Umat Hindu di Banjar Adat Piling, Bali, memberikan bingkisan kepada umat kristiani di banjar tersebut. Wujud toleransi umat Hindu saat Galungan.

RadarBuleleng.id – Bagi masyarakat Bali, toleransi bukan cuma jargon. Tapi hal yang dilakukan secara nyata.

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di Banjar Adat Piling, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.

Dalam rangkaian hari raya Galungan, umat Hindu di desa tersebut melakukan tradisi ngejot atau berbagi makanan kepada tetangga mereka yang beragama Katolik dan Kristen Protestan.

Tradisi ini bukan hal baru. Sudah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari warisan budaya desa. 

Bahkan saat Natal tiba, giliran umat Kristiani yang membalas kebaikan dengan membagikan makanan kepada umat Hindu.

"Tradisi ini sudah mengakar kuat. Kami berbagi makanan seperti lawar nangka, lawar klungah, tum genyol, dan makanan lainnya," ujar Kelian Adat Piling, Ardiana.

Biasanya, umat Hindu akan ngejot pada saat penampahan Galungan. Usai memasak di rumah, mereka akan mengenakan pakaian adat madya. Selanjutnya memberikan hidangan ke tetangga mereka.

Baca Juga: Cerita Ramadan: Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bukti Toleransi di Buleleng

Kini tradisi tersebut diteruskan oleh generasi muda desa. Melanjutkan kebiasaan yang dahulu dijalankan oleh orang tua mereka.

Saat ini, di Banjar Adat Piling dihuni oleh sekitar 35 kepala keluarga (KK) umat Katolik, 25 KK umat Kristen Protestan, dan lebih dari 320 KK umat Hindu. 

Meski berbeda keyakinan, mereka hidup berdampingan tanpa sekat. Bahkan bergabung dalam satu sistem suka duka di bawah banjar adat yang sama.

Sejarah mencatat, umat Kristen Protestan pertama kali datang ke Piling Mengesta pada tahun 1928, lalu mendirikan gereja pada 1936. Sementara umat Katolik mulai menetap sejak 1955.

"Sebetulnya kami semua masih satu keluarga besar di desa ini. Jadi tak ada alasan untuk membeda-bedakan," imbuh Ardiana.

Uniknya, meski berbeda agama, warga saling bahu-membahu dalam setiap upacara adat, baik suka maupun duka. 

Ketika umat Hindu menggelar upacara tiga bulanan atau mengalami kedukaan, umat Kristen pun ikut membantu. Hal yang sama berlaku sebaliknya.

"Kalau sudah urusan desa, semua terlibat, baik laki-laki maupun perempuan, tak peduli latar belakang agamanya," jelas Ardiana.

Ia pun berharap semangat toleransi dan tradisi ngejot ini terus lestari, menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.

"Momentum Galungan ini kami jadikan pengingat untuk terus menjaga keharmonisan dan kedamaian di desa kami," tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#penebel #bali #lawar #hindu #hari raya #natal #kristen #galungan #masyarakat #tradisi #ngejot #tabanan #katolik #Kristiani #gereja