Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sakral dan Megah, Garapan “Paripurnaning Dewa Ayu” Berhasil Memukau di PKB

Eka Prasetya • Jumat, 27 Juni 2025 | 20:35 WIB

 

SAKRAL NAN MEGAH: Penampilan Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara Desa Pemuteran pada ajang parade baleganjur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.
SAKRAL NAN MEGAH: Penampilan Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara Desa Pemuteran pada ajang parade baleganjur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

RadarBuleleng.id – Hentakan baleganjur menggema, mengiringi kidung lirih dalam ritual madewa ayu. Tradisi sakral madewa ayu dan tabuh baleganjur, menjadi garapan khas dalam pentas baleganjur serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

Garapan tersebut dibawakan Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara, Desa Pemuteran, Buleleng, di Panggung Terbuka Ardha Candra, pada Kamis (26/6/2025) malam.

Garapan baleganjur itu bertajuk Paripurnaning Dewa Ayu. Garapan ini memperkenalkan kembali tradisi sakral Madewa Ayu yang dibawa oleh para perantau asal Karangasem.

Ritual madewa ayu merupakan ritus sakral yang berasal dari Desa Seraya, Karangasem. Ritus ini juga berkembang di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak. Seiring banyaknya warga asal Seraya yang merantau di desa tersebut.

Tradisi ini diyakini sebagai bentuk permohonan keselamatan dan penyembuhan, serta ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

“Melalui gending Paripurnaning Dewa Ayu, kami ingin menghadirkan kembali makna sakral dari tradisi Madewa Ayu sebagai warisan spiritual leluhur kami,” ujar Putu Febryanto Kusuma Atmaja, penata gending, usai pertunjukan.

Ribuan penonton larut menyaksikan garapan tersebut. Kidung meswara yang notabene doa untuk mengundang spirit para leluhur, menyatu harmonis dengan hentakan tabuh baleganjur.

Gending ini digarap berdasarkan struktur klasik tri angga dalam pementasan baleganjur. Yakni pengawit (pembuka), pengawak (inti), dan pengecet (penutup). 

Tak hanya itu, para seniman juga menyematkan kekidungan sakral untuk menguatkan nilai spiritual dalam garapan tersebut. 

Simbol-simbol khas seperti tarian lelegongan seraya juga hadir, memperkaya nilai estetika garapan tabuh.

“Garapan ini menjadi cara kami merajut harmoni antara seni, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur kepada kami, sekaligus kekayaan ritual yang ada di Buleleng,” demikian Febryanto. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Ardha Candra #ritual #tari #pesta kesenian bali #gending #tabuh #sakral #leluhur #pkb #seniman #kidung #tradisi #seraya #Ida Sang Hyang Widhi Wasa #baleganjur #spritual #Pemuteran #dewa ayu