Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Madewa Ayu: Tari Sakral dari Seraya

Admin • Senin, 7 Juli 2025 | 01:05 WIB

 

SAKRAL: Tari madewa ayu yang masih dilestarikan masyarakat Desa Seraya, Karangasem, Bali.
SAKRAL: Tari madewa ayu yang masih dilestarikan masyarakat Desa Seraya, Karangasem, Bali.

RadarBuleleng.id - Di sebuah desa tua di ujung timur Bali, tepatnya di Desa Seraya Barat, Kabupaten Karangasem, denyut tradisi masih terus lestari. Sama seperti ratusan tahun silam. 

Ketika upacara dewa yadnya atau manusa yadnya tiba, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke tempat upacara. Ketika malam semakin gelap, kini waktunya gamelan mulai ditabuh. Sekejap setelah tabuh menggema, tubuh para penari baik pria maupun perempuan bergerak tak beraturan. 

Mereka mengalami trance. Mata terpejam. Kesadaran menghilang. Namun tubuh tetap bergerak. Kini raga bukan lagi milik mereka, tapi dikendalikan oleh sosok yang tak nampak.

Itulah Madewa Ayu, tari sakral di Desa Seraya Barat. Tarian ini tergolong tari wali atau tari sakral. Kesenian warisan leluhur yang masih lestari hingga kini. 

Tari Dewa Ayu atau Madewa Ayu bukan sekadar pertunjukan. Tarian ini tidak pernah dipertontonkan sebagai hiburan. Namun sebagai media persembahan. Sekaligus wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah kehidupan dan kesejahteraan. 

Baca Juga: Tradisi Ngerebeg di Sambirenteng: Jejak Leluhur Menjaga Harmoni Alam

Tari Dewa Ayu termasuk bagian dari rangkaian upacara Dewa Yadnya dan Manusa Yadnya yang digelar di desa. “Tradisi Madewa Ayu sudah diwariskan turun-temurun oleh warga kami,” ungkap Bendesa Adat Seraya, I Wayan Salin, saat ditemui pada 11 Juni 2025. 

Ada dua jenis tarian yang dilakoni masyarakat adat setempat. Yakni madewa ayu sumbu dan madewa ayu narat. Jika made ayu sumbu ditarikan tanpa keris, madewa ayu narat tampil dengan lebih ekstrem. Penari akan membawa sebilah keris. Meski berbeda, tapi ada satu hal yang sama. Kedua tarian itu ditarikan para penari dalam kondisi tak sadarkan diri.

Dalam tarian Madewa Ayu Narat misalnya. Keris yang dihunuskan para penari bukan sembarang keris. Keris-keris itu harus melalui prosesi upacara khusus agar bisa menjadi sarana penyatuan spiritual. Keris juga menjadi simbol peleburan sifat buruk manusia (sad ripu) menjadi sifat kebajikan (sad guna). 

Prosesi tarian ini dimulai dengan mendet, melegong, lalu madewa ayu. Prosesi itu menggunakan banten peneman sebagai sarana persembahan. Ketika gamelan bertalu, para penari masuk ke dalam kondisi trance atau kerauhan. Mereka akan bergerak dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Salah seorang penari, Ni Ayu Eka Sayang, 41, mengaku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Ketika masuk dalam fase trance, ia langsung kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

“Saat gamelan mulai ditabuh, tubuh saya bergerak sendiri. Ketika tersadar, saya menangis. Tapi bukan karena takut atau sakit, melainkan rasa haru karena sudah terpilih menjalankan yadnya,” ujarnya.

Menurutnya, siapa saja bisa mengalami kerauhan dan menarikan tarian itu. Syaratnya, mereka harus benar-benar tulus dan siap secara spiritual. “Tidak semua bisa menerima, apalagi memahami. Tapi bagi kami yang menjalani, ini bukan ritual biasa,” ujarnya.

Tradisi ini juga memiliki pantangan yang harus dipatuhi dengan ketat. Keris yang digunakan para penari tidak boleh ditancapkan ke tanah dan tak boleh saling berbenturan. Jika dilanggar, akibatnya bisa fatal. Hal itu bisa memicu luka pada tubuh penari, bahkan bisa berujung kematian.

“Itulah sebabnya, setiap kali prosesi berlangsung, para prajuru yang tidak ikut menari akan siaga penuh. Mereka mengamankan keris jika jatuh atau terlalu membahayakan,” ujar Wayan Salin.

Setelah tarian selesai, penari yang masih dalam kondisi tidak sadarkan akan diperciki tirta atau air suci oleh Jro Mangku. Jika belum juga sadar, tubuh mereka disiram agar sepenuhnya kembali ke dunia nyata.

Yang menarik, prosesi ini tak hanya berlangsung di pura kahyangan desa, tetapi juga bisa digelar di sanggah atau merajan masing-masing keluarga. Ini menunjukkan betapa menyatunya Madewa Ayu dengan kehidupan spiritual warga Seraya. (Penulis: Ni Luh Wikantari)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#karangasem #bali #tari #keris #sakral #yadnya #desa #gamelan #tradisi #seraya #tabu #penari #upacara #manusa yadnya #dewa yadnya