RadarBuleleng.id – Langit Kota Negara, Kabupaten Jembrana, pada Sabtu (9/8/2025), dipenuhi ratusan burung merpati yang terbang tinggi berpasangan.
Lomba merpati terbang tinggi di Lapangan Umum Negara ini bukan sekadar adu keterampilan burung, melainkan pertunjukan budaya yang sudah mengakar di Bali Barat.
Pemerintah bahkan mengusulkan agar tradisi ini tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara mengatakan, lomba merpati terbang tinggi memang ada di banyak daerah di Indonesia.
Namun, Jembrana punya ciri khas yang tak dimiliki daerah lain. “Kalau merpatinya sama seperti pada umumnya, tapi keunikannya ada pada aturan main dan alat tradisional yang digunakan,” ujarnya.
Burung yang digunakan adalah jenis merpati kolongan. Uniknya, masyarakat Jembrana tetap mempertahankan penggunaan alat warisan leluhur, seperti lata kau.
Lata kau adalah stopwatch tradisional dari tempurung kelapa yang berisi air untuk menghitung waktu terbang merpati. Kini, alat ini kerap dipadukan dengan stopwatch modern.
Ada pula acal-acal, besi berbentuk piramid dengan lubang di bagian atas sebagai penanda batas lomba agar merpati tidak keluar area.
Selain itu ada kulkul atau kentongan kayu yang digunakan untuk memberi aba-aba jalannya pertandingan.
Meski teknologi terus berkembang, para pelestari tradisi ini bangga tetap menggunakan alat tradisional. “Biar tetap terasa ruh tradisinya,” kata Sapta Negara.
Bagi warga Jembrana, merpati terbang tinggi adalah lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi ajang silaturahmi, adu keterampilan, dan panggung untuk mempertontonkan keindahan budaya lokal.
Setiap minggu, para pecinta tradisi ini menggelar arisan bergilir di rumah peserta, menjaga kekompakan komunitas.
Karena keunikannya, Pemkab Jembrana telah memasukkan lomba ini dalam kalender budaya tahunan, sering bersamaan dengan perayaan hari jadi Kota Negara.
Tradisi ini juga sudah diusulkan ke Kementerian Kebudayaan untuk ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda.
“Semua ini bukan hanya demi melestarikan tradisi, tapi juga menggerakkan pariwisata daerah,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya