Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Panjang di Balik Instalasi Bulfest 2025: Warga Buleleng Masih Kesulitan Mengenali Karakter Topeng

Francelino Junior • Rabu, 20 Agustus 2025 | 14:40 WIB

 

MENJULANG: Instalasi topeng tinggi menjulang di panggung utama Buleleng Festival 2025.
MENJULANG: Instalasi topeng tinggi menjulang di panggung utama Buleleng Festival 2025.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Buleleng Festival (Bulfest) kembali digelar di 2025. Temanya kali ini adalah The Mask History of Buleleng, jika diterjemahkan menjadi Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng. Alhasil sepanjang festival, topeng menjadi tema sentral.

Tahun ini, Buleleng Festival ingin mengenalkan kembali sejarah topeng. Bukan hanya sebagai media seni pertunjukan, tetapi juga sebagai representasi identitas, spiritualitas, dan peradaban leluhur. 

Wayang Wong Tejakula menjadi salah satu ikon sentral. Topeng-topengnya melegenda bahkan sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Salah satu yang menyedot perhatian adalah dua topeng raksasa yang terpasang di panggung utama bulfest. Kedua topeng itu mengapit Tugu Singa Ambara Raja. 

Sayangnya, tak banyak masyarakat yang mengenali karakter topeng tersebut. Lebih banyak yang mengira jika topeng tersebut menggambarkan lanang dan istri. Sebab salah satunya berkumis, sedangkan lainnya tanpa kumis.

”Kenapa topeng di panggung utama tidak pakai seperti ini (sembari menunjuk gambar topeng di logo Bulfest 2025)? Agak kurang menurut saya,” ujar Gede Agus, salah satu warga.

Baca Juga: Asyik! Ribuan Siswa di Kecamatan Sukasada Dapat Makan Bergizi Gratis

Adapun topeng yang dimaksud oleh Gede Agus adalah topeng hanoman. Topeng itu merupakan salah satu karakter yang dipentaskan dalam pertunjukan Wayang Wong.

”Sebenarnya seperti itu, lebih bagus. Saya tidak tahu juga itu topeng apa,” ujar masyarakat lainnya bernama Iwan.

Memang selama ini tarian Wayang Wong Tejakula dikenal sakral dan mistis. Tidak hanya topeng aslinya, topeng replikanya pun harus menggunakan upacara, apabila ingin dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. 

Kesenian itu pun sangat jarang dapat disaksikan masyarakat. Hal itu juga tidak menutup alasan, kalau masyarakat ternyata kurang mengenal wujud-wujud topeng.

Tetapi nasi telah menjadi bubur. Karya topeng itu tidak mungkin diganti, mengingat pembuatannya pun pasti memakan waktu juga. 

Usut punya usut, kedua karya topeng itu ternyata diambil dari Wayang Wong Tejakula. Yakni Rama dan Laksamana. 

Menariknya, topeng-topeng tersebut menggunakan bahan dari plastik. Ya! Plastik yang dicetak sesuai dengan bentuk wajah topeng.

”Karya topeng Rama dan Laksamana ini permintaan dari Pemkab Buleleng. Desainnya juga dari mereka. Saya tidak pegang fisik topengnya, hanya desain dan 3D-nya,” ujar Putu Eka Darmawan, pemilik Rumah Plastik Singaraja, yang mengerjakan dua instalasi topeng.

Menurut Eka, Wajah topeng itu berkaitan dan ada dalam Wayang Wong Tejakula. Sebab kesenian itu menceritakan kisah Mahabharata dan Ramayana. 

Eka menjelaskan, kedua topeng plastik itu dibuat tinggi masing-masing mencapai 6 meter dengan lebar 2,5 meter. 

Tim di Rumah Plastik harus mempersiapkan instalasi tersebut dalam waktu 1,5 bulan. Syukurnya proyek itu bisa tuntas dalam waktu 20 hari. Meski itu berarti Eka Darmawan harus mengurangi waktu tidurnya.

”Tingkat kesulitan ada di pembentukan muka. Begitu juga dengan membuat ukiran hiasan topeng, seperti anting. Satu ukir anting bisa tiga jam. Karena medianya besar kami pakai mesin ukir buatan sendiri,” ungkapnya.

Yang menjadi tantangan lainnya, ia tidak bisa membawa topeng asli maupun replikasi topeng Rama dan Laksamana di Wayang Wong Tejakula. Karena memang sangat sakral dan harus ada upacara khusus, jika ingin mengeluarkan. 

Maka dari itu, ia harus memutar otak lebih dalam, untuk memahami struktur topeng, karena yang dipegang hanya desain 2D dan 3D ditambah foto topeng.

Pembuatannya pun harus sesuai pakem, yaitu tidak melenceng dari gambaran asli topeng Rama dan Laksamana. 

Beruntung, meski dengan waktu mepet nan sempit sampai kurang tidur, Eka Darmawan dibantu timnya mampu menyelesaikannya. 

Pemasangan instalasi mulai dipasang sejak Sabtu (16/7) dan selesai Senin (18/8) pagi.

”Ini jadi karya pertama yang besar dan berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pakai sampai plastik sampai 1,7 ton. Instalasi ini hanya plastik dan besi sebagai penyangga saja,” tutupnya.

Dengan adanya karya dari plastik daur ulang, Eka Darmawan berharap masyarakat dapat melihat sampah tidak hanya sebagai barang tidak berguna, tetapi mampu menjadi penghasil ekonomi, apabila diolah dengan benar dan sesuai. 

Tetapi disamping itu, pementasan kesenian utamanya yang berkaitan dengan topeng-topeng tradisional, perlu diperbanyak kembali. Sehingga Buleleng dengan beragam karya topeng, masyarakat pun mengetahui dan tidak salah kaprah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Tugu #topeng #Rama #mahabrata #hanoman #unesco #Wayang wong #bulfest #ramayana #Laksamana #buleleng festival #buleleng #Singa Ambara Raja #warisan budaya #karakter #festival